Kamis, 30 September 2010

AKHIRAT

Kejarlah Akhirat,
Jangan Lupakan Dunia

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash : 77)

Keyakinan ketuhanan menjadi landasan spiritual setiap manusia bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan (Rabb) yang selanjutnya diejawentahkan dalam pengamalan-pengamalan ibadah maupun muamalah dalam kehidupan sehari-hari. Peribadatan ritual spiritual sebagai core activities ‘urusan akhirat’ serta aktivitas-aktivitas duniawi harus kita tempatkan secara benar, tepat dan proporsional sehingga pada akhirnya sama-sama memperoleh kebaikan. Perbuatan kita hanya akan dibedakan menjadi dua yakni baik dan buruk, jika kita mengerjakan kebaikan maka pasti akan mendapatkan kebaikan pula pada akhirnya, jika kita berbuat keburukan/kerusakan dimuka bumi maka otomatis keburukan yang kita terima, dan yang lebih buruk lagi jika kita merasa berbuat baik namun ternyata rusak amalan kita di hadapan Allah. Maka dari itu kejarlah akhirat kita dengan penuh kekhusukan dan keikhlasan namun jangan lupakan kebahagiaan duniawi sebagai sarana untuk mengabdi kepada yang memberi hidup yakni Allah SWT.

Mengejar Akhirat
Kekhusyukan dan keikhlasan beribadah kepada Allah akan menentukan kerelaan (keridhoan) Allah menerima pengabdian kita, maka inilah yang dimaksud dengan ibadah secara benar dan tepat, tidak ada kesia-siaan di dalamnya. Coba kita merenung sejenak, selama hidup berapa kali kita melakukan sholat atau ibadah lainnya secara khusyuk dan ikhlas? Ini adalah tolak ukur kita untuk meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan kita. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar amalan yang kita kerjakan mendapat ridho dari Allah SWT :
a. Niat,
Apa saja yang kita amalkan tergantung niat yang tersimpan dalam hati, jika niat kita lurus maka itulah yang akan kita dapatkan, jika sebaliknya, tidak akan mendapatkan apa-apa selain apa yang kita niatkan. Untuk itu niatkan amal ibadah kita dengan lurus karena Allah SWT. Mari kita renungkan niat kita melalui pesan Ilahi dalam firman-Nya berikut ini :
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Asy Syuura : 20)
b. Keilmuan,
Beramal ilmiah berilmu amaliah, apa saja ilmu yang kita dapatkan marilah kita amalkan agar tidak menemukan kesia-siaan, dan apa saja yang kita amalkan dasarkanlah kepada keilmuan agar tidak tersesat, karena tidak akan pernah sama orang-orang yang berbuat, beramal dan ataupun beribadah yang berdasarkan ilmu dan yang tidak berdasarkan ilmu sebagaimana pesan Ilahi dalam firman-Nya :
“Ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar : 9)
c. Keikhlasan/ketulusan
Bersih hati dalam mengerjakan amal sholeh kita akan menjadi kunci diterima atau tidaknya amalan kita di sisi Allah, karena Allah benar-benar menyeru kepada hambaNya untuk beribadah dengan murni, tulus ikhlas sehingga senantiasa lurus dan terbimbing imannya. Iblispun tidak akan pernah bisa menggoda hamba-hamba Allah yang selalu ikhlas.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (Ikhlash) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5)
d. Kekhusyukan
Allah akan menurunkan ketenangan jika kita benar-benar khusyuk dalam beribadah, kesejukan hati akan kita dapatkan jika kita benar-benar khusuk berdzikir dan Allah ridho bagi hambaNya yang lurus dalam mengerjakan agama Allah.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum : 30).

Meraih Kebahagiaan di Dunia
Rumus mendapatkan kesuksesan telah banyak diteorikan oleh para pebisnis dan orang-orang sukses pengagum dunia dengan cara yang beragam dari cara yang halal bahkan sampai cara yang tidak diperkenankan oleh agama, tinggal bagaimana ikhtiar kita, ketekunan dan keuletan kita. Mimpi-mimpi yang telah bersemayam secara mendalam bukanlah sesuatu yang tiba-tiba tapi yang pasti perlu perjuangan yang gigih. Jika kita biasa menyikapi dunia hasilnya juga biasa, kita luar biasa menyikapinya maka hasilnya sesuai usahanya.
“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” ( Al Lail : 4)
Bermacam-macam ikhtiar kita merupakan gambaran kreativitas dan kegigihan, namun perlu kita perhatikan agar langkah dan kesuksesan yang kita raih dapat memberikan ketenangan untuk bathin kita. Belum tentu orang yang bergelimang harta dapat merasakan ketenangan karena ada beberapa yang hal yang diabaikan. Orang-orang yang sukses dalam mencari penghidupan di dunia, tidak semuanya mulia disisi Allah, coba kita cermati peringatan Allah kepada manusia yang lalai yang digambarkan dalam firman-Nya :
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am : 44)

Coba kita cermati ayat tersebut, ternyata ada sebuah kesengajaan dari Allah membuka pintu-pintu kesuksesan orang-orang yang lalai kepada peringatan Allah, itu dimaksudkan untuk menguji apakah dia segera sadar dengan kesalahannya ataukah semakin jauh dari jalan Allah. Jika orang tersebut tidak juga sadar maka Allah akan mengakumulasi dosa-dosanya sehingga ia mendapatkan adzab yang pedih secara tiba-tiba. Kemudian pada akhir perenungannya ia menyadari betapa melupakan peringatan Allah ternyata menjauhkan dirinya dari Tuhannya, namun kesadarannya tersebut justru membuat keputusasaan yang dalam karena telah merasa jauh dan tak bisa mengubah dirinya, subhanallah. Maka dari itu bagi kita yang telah mampu meraih kesuksesan dunia, perlu kiranya memperhatikan beberapa hal berikut ini :
1. Bersyukur, semua yang kita miliki adalah anugerah Allah dan tak lepas dari campur tangan Allah, maka janganlah lupa mensukurinya. Hanya orang yang mau bersyukur yang bisa merasakan betapa apapun yang ia peroleh di dunia adalah karunia Allah, selanjutnya pasti Allah tambah nikmatnya. Perasaan syukur ini akan benar-benar membuat hati kita merasakan kebahagiaan yang mendalam dan penuh ketenangan.
2. Tidak Keluar dari nilai-nilai kewahyuan
Apapun ikhtiar yang kita lakukan jika tidak keluar dari nilai-nilai kewahyuan akan sangat berdampak kepada kebahagiaan hati kita. Namun jika usaha kita keluar dari nilai-nilai wahyu maka akan sangat terasa ganjil dan sangat terasa tidak nyaman. Karena sesungguhnya kebahagiaan adalah apa-apa yang kita kerjakan dan apa-apa yang kita dapatkan selalu sehati dengan suara hati kita, merdeka dan menenangkan jiwa.
3. Mengeluarkan hak orang-orang miskin
Segala apa yang kita dapat di dalamnya ada bagian/ hak dari orang-orang yang tidak mampu/ dhuafa’, ada bagian untuk jalan Allah. Kita akan merasakan kebahagiaan jika kita ikhlas berbagi dengan sesama, rasa syukur kita akan semakin bertambah karena kita sadar betapa Allah masih memberi kita lebih dari orang-orang yang kita santuni.
Dunia merupakan sarana, bukan tujuan. Apapun yang kita usahakan raihlah semuanya dengan cara yang benar. Sebaik-baik orang yang ahli ibadah, masih tetap membutuhkan dunia sebagai sarana mengabdi kepada Allah. Sehebat-hebatnya orang yang suskses di dunia pasti masih butuh ketenangan spiritual. Untuk itu raihlah kebahagiaan akhirat namun janganlah kita mengabaikan kebahagian di dunia.

Tidak ada komentar: