Ad (728x90)

Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

KEPEMIMPINAN

SETIAP DIRI ADALAH PEMIMPIN
oleh : Rofiq Abidin
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah : 30)

Setiap kita pasti pernah dan akan menjadi pemimpin dalam kelangsungan kehidupan kita, baik sengaja maupun tidak kita sadari. Dalam pekerjaan, sekolah, masyarakat dan keluarga serta negara membutuhkan kepemimpinan untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Manusia telahpun ditunjuk oleh Allah sebagai seorang "khalifah” yang secara eksplisit disebutkan dalam firman-Nya Q.S. Al Baqarah ayat 30 tersebut. Kepercayaan Allah kepada manusia untuk menjadi khalifah bukan tanda dasar, walaupun para malaikat meragukan kemampuan manusia karena dinilai akan “menumpahkan darah dan berbuat kerusakan”. Khalifah adalah pengemban amanah Allah, seorang yang memiliki komitmen teguh dan konsisten terhadap amanah Allah yang diembankan kepadanya. Jadi seorang mukmin yang memiliki jiwa kepemimpinanlah yang akan dapat menjaga dan memperjuangkan amanah Allah. Maka untuk dapat memimpin orang lain mestilah bisa memimpin dirinya sendiri. Mari kita renungi Sabda Rosulullah SAW :

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di rumah dan bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harta tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. ( Dari Abdullah bin Umar Rasulullah Saw.)

Memimpin Diri Sendiri
Menurut Dr. Muhammad Syafii Antonio dalam bukunya yang berjudul “Muhammad SAW The Super Leader Super Manager”, self leadership (kemampuan memimpin diri sendiri) merupakan dasar dari segala kepemimpinan. Jadi jelas untuk dapat memimpin suatu kaum/umat mestilah mampu memimpin dirinya sendiri. Ada tiga hal yang harus diraih untuk mewujudkan self leadership (kemampuan memimpin diri sendiri), antara lain :
1. Self discipline (menegakkan disiplin atas diri pribadi) merupakan aktivitas yang lumayan berat karena berkaitan dengan diri sendiri dan tidak melibatkan orang lain. Maksudnya adalah kadang kita lebih mudah memimpin suatu lembaga atau sebuah organisasi daripada memimpin diri kita sendiri, hal itu dikarenakan jika kita melakukan kesalahan dalam memimpin sebuah organisasi atau lembaga, ada orang lain ataupun anggota organisasi yang akan selalu mengingatkan (mengoreksi) kita, bahkan tidak jarang memberikan sanksi terhadap kesalahan yang kita lakukan, sehingga kita menjadi sadar dan bisa belajar dari kesalahan tersebut.
2. Self excuse (memaafkan diri sendiri). Kita semua pasti pernah khilaf atau mungkin lalai/lupa yang terkadang tidak kita sengaja, jadi kita mesti memafkan diri sendiri dengan terus melakukan evaluasi dan pembenahan-pembenahan.
3. Self punishment (menghukum diri sendiri) secara benar dan proporsional atas kesalahan yang kita perbuat namun bersifat edukatif adalah merupakan sarana pengingat yang efektif bagi kita untuk terus dapat menguasai diri dan berbenah. Hal ini juga untuk membentuk jiwa tanggung jawab terhadap amanah kita.

Peranan Pemimpin dalam Islam
Dalam Perspektif Islam, seorang pemimpin mempunyai pengaruh sangatbesar bagi kelangsungan apa dan siapa yang dipimpinnya sehingga terus meraih tujuan yang diharapkan bersama. Ada dua peran seorang pemimpin yang harus terus dibangun :
1. Sebagai khadim (pelayan)
Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa bersahaja dan menjadi pelayan bagi kaum yang dipimpinnya. Seorang pemimpin sejati mampu mengoksplorasi kemampuan/potensi dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak, dia bekerja lebih keras, dia berfikir lebih kuat, lebih mendalam dari pada orang yang dipimpinnya. Demikianlah pemimpin sejati yang dicontohkan Rosulullah SAW, bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang yang dipimpinnya.
2. Sebagai Muwajjih (pemandu)
Pemimpin adalah pemandu yang memberikan arahan pada pengikutnya untuk menunjukkan jalan yang terbaik agar selamat sampai tujuan, senantiasa mengerti dan empati kepada kaumnya sehingga mampu memberikan pandangan rasional dan mudah dimengerti. Bukan sebaliknya, cuek dan kurang empati terhadap kaumnya sehingga mereka dibuat bingung mengejawentahkan kebijakannya. Allah berpesan kepada para pemimpin dalam firman-Nya sebagai berikut :

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah : 24)

Rahasia Kekuatan Pemimpin
Kepemimpinan yang sukses telahpun dicontohkan oleh para nabi dan para rasul, mereka senantiasa menjadi insan-insan terbaik di antara kaumnya, memiliki khazanah ilmu dan wawasan yang luas, serta skill yang mumpuni disamping spiritualnya yang kuat. Beliau selalu menjadi contoh dan teladan bagi kaumnya, baik komitmennya, cara berpikir, maupun amal ibadahnya. Berikut ini adalah rahasia kepemimpinan dalam Islam :
1. Kekuatan iman, ilmu dan wawasan yang luas
Keteguhan iman seseorang akan mempengaruhi optimismenya mencapai tujuan organisasi/institusi, sehingga tetap tegar dalam ujian, tidak tampak “under pressure” di depan kaumnya. Ia lebih tampak percaya diri. Dukungan ilmu dan wawasan yang luas akan menjadikan dirinya penuh strategi dan ulet dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapinya.
2. Amal dan kerja keras
Seorang pemimpin tidak hanya menyuruh kaumnya bekerja, berbuat dan beribadah, namun justru ia menjadi seorang yang penuh kerja keras, berpikir lebih kuat dan beramal ibadah lebih rajin daripada kaumnya sehingga kewibawaannya akan muncul dengan sendirinya. Tanpa bersuara lantang pun para pengikut akan sadar tanggung jawabnya. Itu karena amalan dan kerja kerasnya telah menjadi kekuatan dahsyat yang mendorong kaumnya untuk bekerja lebih keras sesuai dengan amanahnya.
3. Keteladanan
Pemikiran dan langkah lebih maju adalah penampilan sebenarnya, bukan hanya ungkapan verbal tapi mampu membuktikan dan mempertanggungjawabkan pernyataannya. Hal ini akan menjadi teladan yang mampu menginspirasi, menyejukkan jiwa dan mengobarkan semangat para pengikutnya.

Seorang pemimpin sejati terus berpikir, bertindak dan mengembangkan pribadinya untuk bisa memimpin dirinya dan mengendalikan serta memberdayakan kaum/ pengikutnya mencapai visi dan misinya, bersikap teguh dan disiplin dengan perencanaannya sehingga melahirkan generasi-generasi yang kokoh, penuhkomitmen, memiliki skill dan spiritual yang mumpuni dan penuh tanggung jawab terhadap amanahnya.
Tazkiyah

Selasa, 02 Oktober 2012

SEJUKNYA IKHLAS
Oleh : Rofiq Abidin
Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (QS. An Nisa’ :146)

Kita tentu paham bagaimana sosok Raulullah SAW yang begitu lembut dan pemaaf, walau tiap hari mendapatkan ejekan, hinaan, makian bahkan intimidasi, sampai-sampai tiap hari harus mendapatkan air ludah dan kotoran unta saat keluar rumah menuju ka’bah. Justru saat ada yang absent tidak mengejek dan tidak melempari batu, beliau malah datang menjenguknya, yang ternyata ia sakit, subhanallah, beliau begitu pema’af dan memiliki keikhlasan yang luar biasa. Rasa ikhlas begitu menyejukkan hati dan mencairkan suasana. Ketulusan hati bagai embun yang membasahi dedaunan, bagai pagi yang datang menyambut alam dan bagai angin sepoi-sepoi yang menambah kesejukan. Ikhlas yang teraksentuasi dalam permaafan mendinginkan marah dan menyatukan perbedaan. Ikhlas yang teraksentuasi dalam pengamalan menyiratkan kesejatian sikap dan kemurnian hati. Banyak tauladan para mukhlisin yang ada sekitar kita untuk mengingatkan langkah kita dan memberi kesejukan serta penerangan untuk kehidupan ini. Mungkin saja, sosok mukhlisin (orang yang ikhlas) itu muncul pada orang yang barangkali kita anggap remeh, namun terkadang ia hadir dihadapan kita untuk mengajarkan kita untuk ikhlas, ia tampak begitu tenang saat mendapati kesulitan hidup, ia tetap berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menafkahi keluarganya dengan cara yang benar-benar halal. Terkadang Allah membimbing kita dengan mensengaja mendatangkan contoh sosok yang ikhlas agar kita ngeh (mengerti) bahwa hidup ini perlu kita jalani dengan ikhlas. Sehingga kita sadar dan bertaubat dengan kesalahan sikap kita, selanjutnya mengadakan perbaikan-perbaikan secara nyata. Mari kita memulai dari “ikhlas” mengevaluasi diri agar dapat memunculkan kesadaran diri dan berpegang teguh pada ajaran Allah. Sebagaimana pesan Ilahi yang disebutkan di atas. Hakekat Ikhlas Ikhlas berasal dari kata kholish yang secara bahasa artinya murni atau suci dari sesuatu yang sebelumnya bercampur. Menurut Prof. Quraish Shihab iklhas adalah menyingkirkan segala sesuatu yang sebelumnya telah tercampur. Sehingga surat Al Ikhlash, berari memurnikan keesaan Allah dari pemahaman manusia yang telah tercampur, seperti menganggap Allah itu banyak, beranak, dsb. Iklhash berarti mengerjakan segala susuatu dengan mengkaitkan Allah/ridha Allah, sehingga hanya seruan Allah yang maha satu yang mendasari segala perbuatannya. Maka segala perbuatan yang senantiasa dikaitkan dengan Allah maka otomatis itu baik, karena selalu bertanya “Allah ridha atau tidak”, jika perbuatan kita hanya mendasarkan dengan kepentingan kita saja, yang ada ukurannya belum tentu baik. Maka setiap orang yang berbuat ikhlas akan tampak sejuk wajahnya, murni sikapnya karena orisinilitas sikapyany yang begitu ikhlas. Ikhlas juga bukan berarti nerima ing pandum tanpa obah (menerima bagian dengan apa adanya tanpa usaha). Namun ikhlas mencari rezeki dangan cara yang halal juga merupakan bentuk keikhlasan yang perlu ditanamkan dalam benak kita. Karena cara halal tidak hanya menentramkan bathin kita, tapi membahagiakan dan meyelamatkan bagi keluarga kita. Ikhlas Jalan Kebahagiaan Terkadang kita menginginkan sesuatu untuk menjamin kebahagiaan kita. Setelah memilikinya barulah kita merasa berbahagia, namun tidak sampai disini kita ingin lagi dan ingin lagi kebahagian-kebahagiaan yang lainnya, demikian seterusnya kita ulang dan kita ulang lagi. Lihat saja saat kita menginginkan mobil, rumah dan materi lainnya. Padahal jika kita mau tahu ternyata kebahagiaan itu ada pada perasaan, perasaan puas dan nyaman, setelah memiliki ya sudah, kita menginginkan lagi kebahagiaan yang lainnya. Perasaan puas ini merupakan perasaan yang telah terbungkus oleh kerelaan menerima, baik itu kerelaan menerima kesenangan maupun kerelaan menerima ujian. Karena boleh jadi orang telah mendapatkan kesenangan namun belum tentu bahagia, itu karena ia belum rela, kenapa belum rela?, karena belum ikhlas dengan pemberian Allah yang diberikan kepadanya, ia baru merasa semua adalah karena usahanya, bukan karena Tuhannya. Namun jika seseorang mendapatkan sesuatu, ia merasa ada kehendak Allah di atas kesenangan dan kelimpahan hidupnya, maka keikhlasanlah yang akan menuntun kebahagiaannya. Sehingga ia mudah mensyukuri, ia mudah memberi, ia ringan untuk beribadah dan ia mudah untuk mendapatkan ide-ide kreatif untuk menjadi semakin bahagia. Ikhlas Menyejukkan Diri dan Sekitarnya Tentang urusan ikhlas ini, sesuatu yang lembut namun memberikan dampak yang besar. Kenapa ?, karena feadbeck dari sikap ikhlas ini tidak hanya kepada diri sendiri, namun kepada siapa yang melihatnya dan siapa yang merasakannya. Ikhlas merupakan embun bagi setiap orang yang tengah dalam kesulitan, bagi orang yang tengah dalam kebimbangan dan menyejukkan hati siapa yang menyentuhnya. Ia datang beserta kesadaran nyata, adapun kesadaran datang karena pengertian/pemahaman akan sebuah pengetahuan, bukan doktrin-doktin buta, namun tranformasi keilmuan yang menghembuskan jiwa ikhlas. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?. Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu (QS. Alam Nasyrah : 1-2) Melapangkan dada senyatanya tidak mudah, jika kita sedang dikuasai oleh hawa nafsu. Namun manakala kita melatih diri untuk melapangkan dada saat mendapatkan ujian, maka kesejukan ikhlas akan terasa dingin, mendinginkan suasana galau, suasana kacau dan menurunkan depresi. Berikut ini beberapa sikap cerminan ikhlas yang dapat menyejukkan diri dan sekitarnya : 1. Pema’af Memberikan permaafan kepada orang lain merupakan kesejukan tersendiri bagi si penerimanya. Namun kenyataan dalam kehidupan tidaklah mudah, karena memafkan harus mengalahkan penyakit hati yang namanya “dendam” dan “benci”. Dendam dan benci bagaikan bara api yang berkobar-kobar, sedangkan memaafkan penuh keikhlasan bagaikan air yang menyejukkan. Jadi kita akan bisa melihat betapa orang yang ikhlas dalam memaafkan akan tampak bersahaja dan menyejukkan. 2. Bersegera meminta ma’af jika bersalah Kesalahan, kecerobohan dan kelalaian menjadi pemicu kebencian seseorang kepada kita. Apalagi kesalahan yang disengaja, maka jika kita melakukan kesalahan, baik sengaja atau tidak maka bersegeralah meminta ma’af. Itupun butuh kesadaran akan kesalahan, jika tidak, maka kebencian dan dendam orang atas kesalahan kita menjadi semakin besar dan memanas. Dengan segera menyadari kesalahan maka akan air suasana, akan kembali damai, namun tidak lantas hanya minta ma’af, tapi meninggalkan tanggung jawab, justru tanggung jawab ini adalah bukti sesiusnya kita meminta ma’af. 3. Berperasaan positif Segalanya butuh proses, baik itu sebuah pemahaman maupun sebuah kesuksesan. Kita tidak bisa memaksakan apa yang kita pikirkan kepada orang lain, karena orang lain juga punya pikiran dan perasaan. Jadi berperasaan positif terhadap segala proses kehidupan akan menjadikan kita lebih tajam mengambil keputusan, karena kita senantiasa mengikhlaskan proses yang kita bangun dan mengikhlaskan hasil yang ditentukan oleh Allah. Ikhlaskan saja semuanya, berperasaan positif terhadap semua ujian dan anugerah karena ada maksud dan hikmah dalam setiap peristiwa. 4. Bersikap sepenuh hati Melakukan sesuatu sepenuh hati, berarti tidak ada kepalsuan sikap, namun melayani, mengerjakan dan membantu dengan rasa tulus yang mendalam. Inilah aksentuasi keikhlasan yang tampak memberikan pengaruh besar bagi diri dan apa yang kita perjuangkan. Segenap manusia membutuhkan damai, maka berilah maaf bagi siapa yang meminta maaf dan bersegeralah meminta maaf jika kita bersalah. Kita semua butuh sukses dalam hidup maka bangunlah proses dengan penuh ketulusan dan lakukanlah semua dengan sepenuh hati, maka kehendak Allah akan membimbing kita sukses dan tetap pada jalanNya.

Tazkiyah

Selasa, 28 Agustus 2012

Pesan Ilahiyah


Memilih Takdir
Oleh : Rofiq Abidin

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan
(semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian memberikan petunjuk (mengarahkannya). (QS. Al  A’la 1-3)
  
Membicarakan masalah takdir dari meja ke meja tak akan pernah ada habisnya, karena perihal yang satu ini adalah perihal yang tampak rumit dan bisa menimbulkan perdebatan yang kontraproduktif, namun jangan sampai mengurangi keyakinan kita pada Rukun Iman yang keenam yakni beriman kepada qadha’ dan qadar. Pada zaman Rasulullah SAW keyakinan tentang takdir sangat kokoh dan Rasullah SAW tetap melakukan ikhtiar dan mengajak umatnya menyingsingkan baju untuk berusaha meraih takdir terbaik. Dalam perangpun juga masih perlu melakukan perjuangan untuk mendapatkan kemenangan, tidak semata-mata meyakini takdir, lantas kemudian pasrah apa adanya dalam berjuang. Pemahaman tentang qadha’ dan qadar sangat tepat pada zaman Rasullah karena mendapat bimbingan langsung dari Rasulullah SAW. Kata takdir (taqdir) berasal dari kata qaddara berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi penilaian atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, "Allah telah menakdirkan demikian, "maka itu berarti," Allah telah memberi penilaian / ukuran / batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya. Pada dasarnya Allah telah menetapkan rumus-rumus kehidupan secara global, inilah yang disebut “qadha’, seperti setiap manusia pasti mati. Adapun qadar adalah rumusan-rumusan Ilahi secara rinci, seperti manusia akan mati seperti apa dan bagaimana. Jadi qadha’ dan qadar adalah sistem Allah yang dibuat yang berlaku di dunia ini pada siapapun dan apapun. Hanya kita sebagai manusia dipersilahkan untuk memilih taqdir, mau beriman silahkan, mau ingkar juga bias, masing-masing ada taqdir-Nya. Allah menghendaki kita memilih taqdir yang terbaik buat kita. Sedangkan alam raya ini tidak bisa memilih Taqdir-Nya. Mari kita tela’ah firman Allah berikut ini :
 
dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua (QS. Yaa Sin : 38-39)
 
Alam raya ini hanya mengikuti takdir Allah yang telah ditetapkan oleh Allah tanpa bisa memilih, karena satu yang tidak dimilikinya namun dimiliki oleh manusia, yakni “akal” yang dalam Q.S 16:78 meliputi pendengaran, penglihatan dan perasaan. Jadi matahari dan bulan berjalan sebagaimana garis edarnya, itulah rumusan Allah yang telah ditetapkan untuknya. 
 
Rumus Ilahiyah 
Jika kita bicara rumus maka ia adalah sesuatu cara yang pasti dalam menentukan suatu nilai tertentu. Nah, takdir adalah rumus-rumus Allah yang telah dirancang berdasarkan ukuran-ukuranNya yang pasti adil dan pasti akurat. Alam semesta ini sengaja Allah hamparkan di muka bumi ini agar kita bisa memilih dan menemukan taqdir yang terbaik untuk kita. Pilihan rezeki terbaik, jodoh terbaik, karir terbaik, kesejahteraan terbaik, nasib yang terbaik dan lain-lain  haruslah tetap melalui usaha bukan menunggu datang, nanti Allah yang akan mengevaluasi usaha kita dan mengarahkan kita pada takdir terbaik kita. Kalau boleh saya gambarkan takdir itu seperti seperangkat komputer. Rumusan-rumusan Allah yang telah tertulis itu adalah softwarenya, ikhtiar dan tawakal kita adalah gerakan tangan kita yang mengotak-atik keyboardnya dan otak kita yang mengatur keputusan memilih tombol yang mana, selanjutnya Allah mengevaluasi ikhtiar kita dan diputuskanlah takdir kita. Jadi Komputer ini tidak akan bermakna apa-apa manakala tidak ada gerakan dari tangan kita dan otak kita yang memilih sesuai ilmu dan kebijakan kita. Boleh jadi kita telah berusaha menggerakkan langkah dan memfungsikan otak kita dengan maksimal, namun ada evaluasi Allah yang menghendaki kita untuk tidak mendapatkan nilai yang kita harapkan, itupun juga yang terbaik dari ketentuan Allah yang diputuskan kepada kita, karena Allah punya pertimbangan sendiri, karena Allah maha berkehendak. Mungkin saja, niat kita kurang ikhlas, kita melupakan do’a atau mungkin usaha kita ternyata melenceng dari rumusan Allah, padahal kita merasa sudah tepat. Itu adalah bagian dari proses dan evaluasi Allah terhadap ikhtiar kita, jika kita tetap sabar dan tawakal maka Allah akan melipatgandakan hasilnya di kemudian hari, yang pasti semua hasil takdir itu adalah yang terbaik untuk kita, karena Allah Maha Adil.

Memilih Takdir Terbaik
Hidup adalah pilihan, keadaan kita hari ini adalah efek dari pilihan-pilihan kita kemarin. Jadi tak perlu terlalu dalam menyesali pilihan salah dari sikap kita pada masa lalu, yang perlu adalah mengambil hikmah dari pilihan kita kemarin, selanjutnya menetapkan sikap pada hari ini, demi masa depan takdir kita selajutnya. Hanya kepada Alah tempat bergantungnya harapan, kita harus tetap mengedepankan ikhtiar dan tawakal dan kita juga bebas memilih cara apa untuk mencapai takdir yang kita harapkan. Namun hasil tetap di tangan Allah sesuai rumusan-rumusan yang telah ditetapkan dan evaluasi-evaluasi adil-Nya terhadap cara-cara kita. Jika kita muslim maka pakailah cara-cara islami, karena itu akan membawa ketentraman bagi bathin kita dan keberkahan hidup, pun juga akan berefek di akhirat nantinya. Banyak pilihan-pilihan yang terhampar di muka bumi, banyak cara-cara yang berseliweran muncul di benak kita untuk mendapatkan takdir kita, namun cara-cara itu sendiri juga ada rumusannya, apakah cara halal ataukah cara haram, itu juga pilihan takdir, kita yang memilihnya. Pada dasarnya kita telah diberikan kadar dalam memilih, karena Allah memberikan kita beban sesuai kesanggupan kita, namun terkadang kita menerjangnya dengan memilih cara salah (menurut rumusan Allah) yang mengakibatkan kita seakan tidak kuat, nah di sinilah perlunya kita mengimani “qadha dan qadar”, semuanya sudah diatur dalam rumus takdir. Bukannya sudah tertulis kesialan kita, tapi ada evaluasi Allah yang mengharuskan kita menerima ujian itu. Boleh jadi Allah hendak menaikkan derajat kita dengan menunda takdir kepada kita, atau boleh jadi ada maksud Allah untuk menyelamatkan kita, karena Allah sayang kepada kita, jadi berprasangka baik saja kepada Allah, itulah sikap bijak mukmin yang benar-benar mengimani Rukun Iman yang keenam yakni “iman kepada qadha’ dan qadar”. Mari kita hayati Pesan Allah berikut ini :

"Allah telah menetapkan untuk segala sesuatu kadarnya" (QS Al-Thalaq [65]: 3)
 
Jelas bahwa Allah telah membuat ukuran/ kadar kemampuan atau yang bisa kita sebut takdir. Takdir/ kadar kemampuan kita telah diukur, kadar pilihan kita juga menjadi penentu nasib kita, karena Allah akan mengarahkan kita setelah kita mau melakukan gerakan perubahan terhadap nasib kita, jika tidak adanya tindakan, Allahpun juga telah menetapkan takdir pada kita, yaitu tidak mendapat apa-apa, lha wong kita gak berbuat, mana mungkin kita dapat?

Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mau mengubahnya sendiri (QS. Ar Radu : 12)

Jadi pilihlah takdir kita, Allah yang akan mengarahkan kita, mengevaluasi ikhtiar kita dan syukurilah hasil takdir kita yang telah ditetapkan oleh-Nya. Namun ingatlah bahwa dalam memilih takdir itu terhampar banyak cara, tapi tetap ada dua dalam rumusan-Nya, ialah cara yang halal atau cara yang haram. Pilihlah cara yang halal, cara Islami karena itu akan membawa kita kepada nilai kebahagiaan yang hakiki yakni ketenteraman hati dan kesenangan di akhirat nanti. Kiranya demikian ikhtiar penulis, semoga bermanfaat dan apabila ada kesalahpahaman dalam penulisan, marilah kita ambil nilai positifnya agar kita dapat tetap mengimani “qadha’ dan qadar” yang telah Allah tetapkan bagi kita, bagi alam dan kehidupan ini.
 
 
 
Tazkiyah

Senin, 27 Agustus 2012

Tazkiyah


Hanya Aku dan DIA
Oleh : Rofiq Abidin

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS. Az Zumar : 23)

Allah saja yang tidak akan pernah mengecewakan kita, kita sesama manusia tidak akan bisa memuaskan semua keinginan manusia, karena manusia punya hawahu (hawa nafsu), baik yang muncul dalam bentuk nafs amarah maupun nafs-nafs buruk lainnya. Tata tertib hidup yang dibuat oleh Allah dalam firman-Nyalah yang akan menunjuki dua jalan, yakni jalan yang benar dan jalan yang salah beserta dengan
resikonya, tergantung pilihan hidup kita. Inilah pengendali hawahu itu, jadi datanglah kepada Allah dengan penuh ketundukan, niscaya akan menemukan ketenangan dan ketentraman. Kita pasti pernah kecewa dengan seseorang, dengan keadaan atau bahkan dengan diri kita sendiri, namun Allah tidak pernah meninggalkan kita. Banyak ayat-ayat yang diperlihatkan kepada kita, yang diperdengarkan kepada kita, baik ayat-ayat yang ada dalam Al Kitab, maupun tanda-tanda kekuasaan di alam raya ini. Kerinduan untuk terus mendekat kapada Allah terkadang hanya muncul saat kita sedih, saat kita sedang dalam tekanan, ketika dalam masalah, namun saat dalam kelimpahan kita lupa dan mungkin kadang-kadang kita pura-pura lupa. Entah mungkin kita terlalu asyik dengan urusan dunia, sehingga PetunjukNya pun kita tinggalkan dan hanya menjadi bacaan semata. Begitukah seharusnya, bukankah Allah menurunkannya untuk dijadikan pedoman disetiap sudut masalah kita?.

Hanya dengan mengingat-Nya
Saat kita mendapati diri kita pasrah, saat itu kita merasakan hanya Dia harapan terakhir. Padahal Allah sudah mengulurkan tangan-Nya untuk kita sejak awal, namun kita tidak mau datang kepada-Nya. Ya, lagi-lagi keasyikan dunia yang menutupi semua, seolah-olah kita bisa menangani semua tanpa-Nya. Sadarlah bahwa dengan datang kepada-Nya, baik melalui shalat, melalui do’a atau melalui firman-Nya kita akan merasa tenang, tentram dan nyaman. Sebagaimana Allah berfirman :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d : 28)

Pesan Ilahi tersebut di atas menerangkan bahwa orang- orang beriman yang telah sadar/ taubat akan menemukan sebuah ketentraman saat mengingat Allah. Dzikir yang khusuk, sholat yang khusuk, zakat yang khusuk (tanpa riya’) akan terasa memuaskan hati dan menyamankan jiwa, itu semua karena Allah, kita tulus ikhlas melakukannya hanya untuk-Nya. Bukankah kita selalu berkomitmen saat kita sedang sholat bahwa “sholatku, pengorbananku, hidup dan matiku “lillahirobbil’ alamin” (untuk Rabb/ Pengatur Alam yakni Allah SWT). Komitmen kita itupun diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya :

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am : 162)

Saat kita mengucapkannya dengan khusuk “hanya aku dan Dia”, maka kontak langsung dengan-Nya akan menghadirkan ketenangan, ketundukan dan kecintaan kita seluruhnya untuk sang Khalik. Hanya dengan mengingat Allah, jiwa kita akan kembali bersih dan kembali lurus sehingga ketentraman yang tiada tara bisa kita rasakan. Namun beda manakala kita melakukan shalat tapi tidak khusuk, kadang ingat Allah, kadang pikiran melayang kemana-mana, yang ada justru kita ingat kita meletakkan kunci kendaraan di mana, menyimpan uang di mana dan lain- lain. Usia kita semakin bertambah, marilah kita niatkan untuk mengingat-Nya dengan khusuk, bukan untuk mendapat ketenangan, namun lebih kearah pengabdian/ persembahan yang benar dan ikhlas, karena ketenangan otomatis akan kita dapatkan manakala kita khusuk dan sungguh-sungguh dalam mengibadati-Nya.

Hanya Aku dan Dia
Romantisme kita dalam mengibadati Allah memiliki cerita masing-masing, seiring dengan fluktuasi iman kita. Suatu saat kita merasa butuh untuk dekat kepada-Nya, suatu saat kita membenarkan sikap dengan mengabaikan pengawasan-Nya. Allahpun dekat jika kita mau dekat, bahkan Allah lebih mendekat, namun jika kita meninggalkan-Nya, Allahpun tetap mengawasi kita, menilai kita, menghitung semua sikap kita dengan detail, kemudian memberi balasan sesuai apa yang kita lakukan, tak ada yang salah dengan perhitungan-Nya. Sebuah romantisme yang indah manakala seorang manusia mencintai dan dicintai Allah. Muhammad SAW adalah sosok kekasih Allah yang membuktikannya. Keluhuran akhlak Rasulullah SAW
dan amanah beliau dalam menjalankan misi kenabiannya serta prestasi ibadahnya menjadikannya manusia tersukses yang meraih cinta Allah SWT. Keteladanan beliau menjadikan semua ingin sepertinya, namun tak mudah meniru perilaku luhur beliau, prestasi ibadah beliau dan rasa cinta beliau kepada Allah. Kunci dari semua adalah pandai-pandailah memupuk iman, ikuti kata iman kita, karena di dalam iman kita ada irodah-Nya yang akan selalu mengingatkan saat kita mulai keluar dari jalur yang benar, menuntun kita pada kebahagiaan. Kita mulai instrospeksi dari sholat kita, berapa kali kita sholat khusuk, padahal jatah usia kita semakin berkurang.

“(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatNya.” (QS. Al Mukminuun : 2)

Mukmin yang beruntung ialah mukmin yang khusuk dalam sholatnya, itu janji Allah dalam Al Qur’an. Jadi iman kita menjadi syarat utama kita untuk khusuk, dan khusuk akan datang manakala kesungguhan kita untuk khusuk itu ada, pun juga penghayatan dalam sholat, tanpa kesungguhan niat dan penghayatan tidak mungkin kita mendapatkan khusuk. Selanjutnya khusuk inilah yang akan menenteramkan bathin kita, merefresh jiwa kita sehingga kita akan senantiasa siap menghadapi tantangan ke depan. Semoga saja romantisme ibadah saya dengan Allah SWT dan kita semua dengan Allah terus mengalami peningkatan, demikian juga dengan prestasi amal kita, seiring jatah usia kita yang makin berkurang hingga kelak kita kembali kepada-Nya dengan ridho-Nya.
Tazkiyah

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © RAHMATAN LIL ALAMIN 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Templateism