Ad (728x90)

Selasa, 21 Februari 2012

Visi


MUKMIN VISIONER
Oleh : Rofiq Abidin
 Sebuah pencapaian besar bermula dari mimpi-mimpi besar, selanjutnya diaktualisasikan  dengan semangat besar dan kerja keras. Tak terkecuali mukmin, pun berangkat dari sebuah visi yang ditanam sejak dini. Sosok nabi visioner yang menjadi panutan segenap manusia adalah Ibrahim AS dan Muhammad SAW, beliau-beliau ini telah menginterprestasikan risalah Allah dengan visi besar, sehingga Peradaban Islam dibangun dari generasi ke generasi. Beliau bersama sahabat setianya memulai dengan membangun sesuatu yang fundamental yakni aqidah, selanjutnya diikuti dengan pembangunan lahiriah, yakni wadah untuk menyatukan kekuatan, ialah masjid sebagai pusat pendidikan dan penggemblengan aqidah.
            Akhir-akhir ini berkembang pelatihan-pelatihan dan simposium yang didalamnya mengambil nilai-nilai Islam sebagai materinya. Ini merupakan dakwah modern yang mengikuti perkembangan zaman, namun sayang jika ada di antara pemateri ini yang kurang begitu memahami maknawiah sesungguhnya dan hanya dikorelasikan dengan bisnis, sehingga spirit dakwah dan ritualnya kurang menyentuh pesertanya. Seorang mukmin visioner akan memiliki naluri dakwah yang tinggi, karena kecintaannya kepada Islam. Jika boleh mengamati, mukmin visioner dari mulai para nabi hingga masa kini biasanya memiliki beberapa sifat dan sikap berikut ini :
1.      Islam minded, kecintaannya kepada Islam tak bisa ditawar, baginya Islam adalah harga mati. Sikap dan idenya selalu merujuk kepada Al-qur’an dan Al Hadits. Semua pemikiran dan sikapnya selalu dikembalikan kepada nilai-nilai Ilahiyah. Ia benar-benar tegas menolak sesuatu yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam.
2.      Empati sosial, ia bukan bisnisman yang memikirkan diri sendiri, tapi ia selalu peduli demi kemajuan Ummat dan Dinul Islam. Ia tak pernah merasa lelah untuk urusan kemanusiaan, membangun Ukhwah Islamiah, lebih-lebih lagi untuk kemajuan Peradaban Islam.
3.      Militansi aqidah, keyakinannya yang mendalam menjadikan seorang mukmin visioner memiliki militansi yang tinggi, ia siap apa saja demi mentegakkan Nilai-Nilai Islamiyah.
4.      Naluri dakwah yang tinggi, dimana saja, kapan saja, berperan sebagai apa saja ia tampak tegak dengan komitmen besar terhadap syari’ah. Ide yang ia gagas tentang  Visi Islam akan terus diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, baik dimulai dari diri, keluarga, lingkungan dan bangsanya.
Sebuah visi kemajuan yang diusung oleh para nabi dan para rasul, kemajuan berfikir, kemajuan berusaha dan kemajuan dalam segala bidang. Seorang mukmin visioner selalu open minded, namun tetap berpegang teguh kepada Ajaran Ilahi. Karena pandangannya yang jauh ke depan menjadikannya selalu menjadi pelopor menuju perubahan nyata. Mari kita teladani bagaimana Nabi Ibrahim mendongkrak paganisme Namruj yang begitu kokoh dan Nabi Muhammad yang dengan sabar membangun kekuatan di Madinah Al Munawarah, hingga kita menemukan zaman keemasan pada masa-masa Dinasti Abbasiyah, dimana muncul ilmuwan-ilmuwan muslim terkemuka yang menjadi dasar perubahan-perubahan modern pada saat ini. Namun bagaimana dengan sekarang?, mukmin visionerlah yang akan menjawabnya. Semoga saja kita Umat Islam dapat kembali bangkit, membangun Peradaban Islami yang penuh damai, adil dan sejahtera, dimulai dari diri kita.

Khusuk


Hanya Aku dan DIA
 Oleh : Rofiq Abidin
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa
(mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya
seorang pemimpinpun.” (QS. Az Zumar : 23)

Allah saja yang tidak akan pernah mengecewakan kita, kita sesama manusia tidak
akan bisa memuaskan semua keinginan manusia, karena manusia punya hawahu
(hawa nafsu), baik yang muncul dalam bentuk nafs amarah maupun nafs-nafs buruk
lainnya. Tata tertib hidup yang dibuat oleh Allah dalam firman-Nyalah yang akan
menunjuki dua jalan, yakni jalan yang benar dan jalan yang salah beserta dengan
resikonya, tergantung pilihan hidup kita. Inilah pengendali hawahu itu, jadi datanglah
kepada Allah dengan penuh ketundukan, niscaya akan menemukan ketenangan
dan ketentraman. Kita pasti pernah kecewa dengan seseorang, dengan keadaan
atau bahkan dengan diri kita sendiri, namun Allah tidak pernah meninggalkan kita.
Banyak ayat-ayat yang diperlihatkan kepada kita, yang diperdengarkan kepada kita,
baik ayat-ayat yang ada dalam Al Kitab, maupun tanda-tanda kekuasaan di alam
raya ini. Kerinduan untuk terus mendekat kapada Allah terkadang hanya muncul
saat kita sedih, saat kita sedang dalam tekanan, ketika dalam masalah, namun saat
dalam kelimpahan kita lupa dan mungkin kadang-kadang kita pura-pura lupa. Entah
mungkin kita terlalu asyik dengan urusan dunia, sehingga PetunjukNya pun kita
tinggalkan dan hanya menjadi bacaan semata. Begitukah seharusnya, bukankah
Allah menurunkannya untuk dijadikan pedoman disetiap sudut masalah kita?.

Hanya dengan mengingat-Nya
Saat kita mendapati diri kita pasrah, saat itu kita merasakan hanya Dia harapan
terakhir. Padahal Allah sudah mengulurkan tangan-Nya untuk kita sejak awal,
namun kita tidak mau datang kepada-Nya. Ya, lagi-lagi keasyikan dunia yang
menutupi semua, seolah-olah kita bisa menangani semua tanpa-Nya. Sadarlah
bahwa dengan datang kepada-Nya, baik melalui shalat, melalui do’a atau melalui
firman-Nya kita akan merasa tenang, tentram dan nyaman. Sebagaimana Allah
berfirman :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram.” (QS. Ar Ra’d : 28)

Pesan Ilahi tersebut di atas menerangkan bahwa orang- orang beriman yang telah
sadar/ taubat akan menemukan sebuah ketentraman saat mengingat Allah. Dzikir
yang khusuk, sholat yang khusuk, zakat yang khusuk (tanpa riya’) akan terasa
memuaskan hati dan menyamankan jiwa, itu semua karena Allah, kita tulus ikhlas
melakukannya hanya untuk-Nya. Bukankah kita selalu berkomitmen saat kita
sedang sholat bahwa “sholatku, pengorbananku, hidup dan matiku “lillahirobbil’
alamin” (untuk Rabb/ Pengatur Alam yakni Allah SWT). Komitmen kita itupun
diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya :

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am : 162)

Saat kita mengucapkannya dengan khusuk “hanya aku dan Dia”, maka kontak
langsung dengan-Nya akan menghadirkan ketenangan, ketundukan dan kecintaan
kita seluruhnya untuk sang Khalik. Hanya dengan mengingat Allah, jiwa kita akan
kembali bersih dan kembali lurus sehingga ketentraman yang tiada tara bisa kita
rasakan. Namun beda manakala kita melakukan shalat tapi tidak khusuk, kadang
ingat Allah, kadang pikiran melayang kemana-mana, yang ada justru kita ingat kita
meletakkan kunci kendaraan di mana, menyimpan uang di mana dan lain- lain. Usia
kita semakin bertambah, marilah kita niatkan untuk mengingat-Nya dengan khusuk,
bukan untuk mendapat ketenangan, namun lebih kearah pengabdian/ persembahan
yang benar dan ikhlas, karena ketenangan otomatis akan kita dapatkan manakala
kita khusuk dan sungguh-sungguh dalam mengibadati-Nya.

Hanya Aku dan Dia
Romantisme kita dalam mengibadati Allah memiliki cerita masing-masing, seiring
dengan fluktuasi iman kita. Suatu saat kita merasa butuh untuk dekat kepada-
Nya, suatu saat kita membenarkan sikap dengan mengabaikan pengawasan-Nya.
Allahpun dekat jika kita mau dekat, bahkan Allah lebih mendekat, namun jika kita
meninggalkan-Nya, Allahpun tetap mengawasi kita, menilai kita, menghitung semua
sikap kita dengan detail, kemudian memberi balasan sesuai apa yang kita lakukan,
tak ada yang salah dengan perhitungan-Nya. Sebuah romantisme yang indah
manakala seorang manusia mencintai dan dicintai Allah. Muhammad SAW adalah
sosok kekasih Allah yang membuktikannya. Keluhuran akhlak Rasulullah SAW
dan amanah beliau dalam menjalankan misi kenabiannya serta prestasi ibadahnya
menjadikannya manusia tersukses yang meraih cinta Allah SWT. Keteladanan
beliau menjadikan semua ingin sepertinya, namun tak mudah meniru perilaku luhur
beliau, prestasi ibadah beliau dan rasa cinta beliau kepada Allah. Kunci dari semua
adalah pandai-pandailah memupuk iman, ikuti kata iman kita, karena di dalam iman
kita ada irodah-Nya yang akan selalu mengingatkan saat kita mulai keluar dari jalur
yang benar, menuntun kita pada kebahagiaan. Kita mulai instrospeksi dari sholat
kita, berapa kali kita sholat khusuk, padahal jatah usia kita semakin berkurang.

“(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatNya.” (QS. Al Mukminuun : 2)

Mukmin yang beruntung ialah mukmin yang khusuk dalam sholatnya, itu janji
Allah dalam Al Qur’an. Jadi iman kita menjadi syarat utama kita untuk khusuk, dan
khusuk akan datang manakala kesungguhan kita untuk khusuk itu ada, pun juga
penghayatan dalam sholat, tanpa kesungguhan niat dan penghayatan tidak mungkin
kita mendapatkan khusuk. Selanjutnya khusuk inilah yang akan menenteramkan
bathin kita, merefresh jiwa kita sehingga kita akan senantiasa siap menghadapi
tantangan ke depan. Semoga saja romantisme ibadah saya dengan Allah SWT
dan kita semua dengan Allah terus mengalami peningkatan, demikian juga dengan
prestasi amal kita, seiring jatah usia kita yang makin berkurang hingga kelak kita
kembali kepada-Nya dengan ridho-Nya.

Dakwah


Meng-install Komitmen Dakwah Kita
Oleh : Rofiq Abidin
Kian hari kita rasakan dekadensi moral semakin menjadi- jadi. Pergaulan menjadi jendela  efektif  yang mempengaruhi pola pikir, sikap dan keputusan seseorang memilih jalan. Tidak sedikit orang tua yang prihatin terhadap pergaulan anaknya, sehingga mengambil tindakan preventif dan protektif agar anaknya tidak terjerumus kedalam pergaulan yang salah. Adapun yang duduk di pemerintahan senyatanya terus menerus menuai kasus korupsi yang notabene mereka kebanyakan muslim. Berbagai iklan di berbagai media telah banyak menyindir sikap pemerintah yang korup, namun sepertinya tidak mempan, masihkah berfungsi nuraninya? Melihat kenyataan ini, sebagai muslim tentunya terketuk hati kita, karena dakwah merupakan komitmen yang perlu kita install kembali. Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya :
“Dan hendaklah ada di antara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang – orang yang beruntung”. (Ali Imran : 104)
Melalui ayat ini, Allah menyeru kepada setiap kita untuk melakukan dakwah sesuai dengan kemampuan dan bidang keahliannya, apapun profesi dan posisi jabatannya serta di manapun ia berada. Dalam sebuah hadispun Rasulullah SAW memberikan gambaran betapa dakwah merupakan kewajiban kita, baik yang memiliki kekuasaan ataupun tidak. Cakupan dakwah tidak terbatas dalam bentuk ceramah atau pengajian semata, namun dakwah harus menyentuh sektor kehidupan yang nyata, sehingga maknanya semakin terasa dan memberikan solusi dalam kelangsungan hidup bersama. Sekarang, yang kita perlukan adalah kembali menguatkan komitmen da’wah kita (re-installing), agar da’wah tidak menghambar dan sering ‘hang’ digerogoti virus-virus. Mari kita meng-install ulang komitmen dakwah kita dengan beberapa hal berikut ini :
Pertama, pahami bahwa da’wah itu fardhu, yang mengakibatkan konsekuensi dosa bagi orang yang tidak melakukannya. Kita tidak perlu lagi memperdebatkan ini fardu ain atau fardu kifayah, karena dalam kenyataannya ummat ini masih butuh sentuhan dakwah, mulai anak-anak, remaja bahkan dewasa.
Kedua, bersihkan memori kita dari pikiran yang kotor,  nafsu kebebasan, dan paham yang menyesatkan. Ketika Anda menginstal computer, semua virus dan file aktif yang mencurigakan harus dibersihkan dulu, kalau tidak ingin instalasi Anda gagal karena software Anda kalah oleh virus itu. 
Ketiga, tanamkan niat dan tujuan yang benar, ikhlas semata mengharap ridha Allah. Niat akan mempengaruhi perolehan kita. Ketika kita berda’wah dengan niat karena Allah, niscaya Allah memberi bimbingan sesuai yang dikehendaki-Nya.
Keempat, Lakukan dakwah dengan proporsional dan sabar, tiga pendekatan dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW, yakni tangan, lisan dan hati mestilah dilakukan sesuai kondisi dan posisi kita. Dari pendekatan kekuasaan, kita lakukan dengan membuat aturan-aturan yang islami dan tidak memihak kemungkaran. Pendekatan lisan, ucapkan yang benar walaupun pahit, nasehatkan dalam setiap celah kesempatan, baik melalui pertemuan maupun person to person. Selanjutnya pendekatan hati, yakni heart to heart, pendekatan yang terus dilakukan kepada orang yang sulit sekalipun, bicara dengan hati ke hati, diiringi dengan penegasan tauladan dan do’a. Semoga komitmen dakwah kita terus terjaga demi kelangsungan kehidupan kita selanjutnya. 

Niat


SEMUA BERAWAL DARI NIAT
Oleh : Rofiq Abidin

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
(QS. Asy Syuura :20).

Dalam setiap pekerjaan kita, ada sebuah kehendak hati yang menggerakkan langkah kita, ialah niat. Semua yang kita lakukan menyimpan kepentingan-kepentingan, bisa jadi kepentingan itu bermanfaat, mudharat atau bahkan kepentingan itu kosong hanya sebatas kepuasan. Niat merupakan ruh dalam amal, niatlah yang akan menjaga semangat kita dan memotivasi kita. Jika kita mulai lemah dan lesu dalam mencapai sesuatu, kembalilah kepada niat baik anda, karena niat menyimpan tujuan, kepentingan dan obsesi anda. Niat akan meminyaki api semangat anda, karena getaran niat ini akan benar-benar menggetarkan emosi anda jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh khusyuk. Niat dapat mengembalikan kita untuk kembali, kembali kepada jalan kebenaran, yakni jalan Allah. Jika kita mulai berbelok arah, niatkan kembali karena Allah. Boleh jadi kita melakukan sesuatu tapi tidak sesuai dengan niat kita, kita meninggalkan niat yang pernah kita ikrarkan dalam hati dan kita komitmenkan dengan lisan, kita jadi berpaling dari arah tujuan semula. Islam sangat memperhatikan urusan niat ini, setiap amal dan peribadatan kita memang sangat ditentukan oleh niat. Rasulullah menegaskan dalam buah tuturnya (Al Hadits) :
Daripada ‘Umar bin al-Khaththab RA, dia berkata, Rasulullah (shalawat dan salam ke atas baginda) bersabda: “Sesungguhnya amal itu tidak lain hanyalah dengan niat dan sesungguhnya bagi setiap orang hanyalah apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah untuk dunia yang dia inginkan atau kerana seorang wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia berhijrah kerananya.

Niat dan Hijrah
Buah tutur Rasulullah SAW yang tertulis di atas ada dalam kitab Riadus Shalikhin pada halaman pertama, perihal ini menjadikan saya tertarik untuk membaca berulang-ulang, karena selama ini rata-rata kita hanya mendapat penggalan hadistnya saja yakni “insnamal a’malu bin niat” (sesungguhnya setiap amal tergantung/dengan niatnya). Namun ternyata sebuah perintah hijrahpun disertakan dalam hadist ini oleh Rasulullah SAW, bermakna adanya makna historis antara niat dengan hijrah. HIjrah merupakan salah satu amal yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW dan ummatnya untuk membangun diri (nafs), tempat peradaban dan aplikasi aturan-aturan Ilahiyah, sehingga wujudlah Madinah (sebuah tempat peradaban yang didalamnya diberlakukan aturan Allah oleh manusia). Apa kaitan niat dengan hijrah? Secara historis pada masa itu hijrah menentukan kelanjutan iman seorang muslim. Jadi jika niat berhijrah mestilah karena Allah dan Rasulnya, bukan untuk mendapatkan harta, wanita atau bahkan kelimpahan saat mencapai kemenangan. Semua kelimpahan pada masa yang akan datang adalah efek dari niat tulus kita untuk berhijrah, mengubah diri menjadi lebih baik, lebih sholeh, lebih sukses dan kemakmuran lainnya.

Semua Berawal dari Niat, Niatpun Tak Hanya di Awal Saja
Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkan. (HR. Bukhori)
Pernahkah anda mendengar celoteh “kamu ini gak niat”, itu adalah ungkapan kejengkelan seseorang saat melihat bawahan, teman atau rekan yang tampak kurang serius mengerjakan sesuatu, berarti ia sedang mengerjakan suatu pekerjaan, bukan sebelum mengerjakan. Niat memang akan tampak sungguh-sungguh atau tidak, saat seseorang sedang melakukan pekerjaannya. Contoh gampangnya saja, saat kita sholat, saat niat awal yang diikuti takbirotul ikrom kita khusuk, namun boleh jadi setelah selesai niat, pikiran kita mengembara kemana-mana, itu karena niat kita hanya di awal saja, maka kembalilah kepada niat semula, jagalah, sehingga kekhusukan akan begitu terasa. Niat itu adalah sebuah esensi penting yang harus kita bawa kemana-mana untuk mencapai tujuan akhir, niat juga sebuah visi yang akan membawa kita kemana kita melangkah, walaupun terkadang kita melupakannya karena menemukan sesuatu yang baru. Jadi awali semua dengan niat, kemudian jagalah, agar melakukan sesuatu itu penuh khusuk (dalam urusan ritual) dan penuh serius dalam urusan mu’amalah sehingga memperoleh khusnul khotimah (akhir yang baik/sukses).

Manajemen Niat
Niat baik akan membawa kepada kemanfaatan, niat jahat akan dapat menyeret kepada kemudharatan. Semua akan membawa efek masing-masing, maka ketulusan niat baik sangat berdampak kepada istiqomahnya amalan kita. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah manajemen niat, ini bukan bermakna monopoli niat, tapi lebih ke arah esensinya, agar menemukan keistiqomahan keridhoan Allah. Karena Allah maha tahu setiap gerakan kita, pun juga gerik hati kita, sedang berubah-ubah, istiqomah atau condong kepada keburukan. Allah sangat tahu apakah kita tulus atau bercampur dengan riya’, maka krentek hati kita akan menjadi pemicu gerak dan langkah kita, boleh jadi niat kita ingin mengubah, namun justru malah terpengaruh dengan fakta yang cenderung mundur, itu karena manajemen niat kita yang lemah. Mari kita renungi peringatan Allah berikut ini :
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari negerinya (untuk berjihad di jalan Allah) dengan berlagak sombong dan menunjuk-nunjuk (riya’) kepada orang ramai. [al-Anfal 8:47]
Setiap manusia yang sedang berniat baik, iblis tidak pernah terima, berbagai cara ia lakukan untuk mengurungkan niat kita. Perangkap yang bernama riya’ disiapkan untuk merusak niat baik kita, maka waspadalah. Setiap kebaikan murni akan terasa baik pula oleh nurani kita dan nurani manusia yang melihatnya, apalagi Allah yang maha tahu. Maka mengatur niat perlu kita lakukan agar tidak menemukan kesia-siaan. Ada tiga hal yang dapat merusak niat :
1.    Riya’, sebuah sifat perusak niat baik, yang menyimpan kepentingan agar kita dinilai baik, hebat, dan kuat. Ini bisa dirasakan atau bahkan kita tutupi dengan pembenaran-pembenaran sikap kita.
2.    Takabur, sebuah sikap yang menjadikan kita lupa diri dan lupa dengan niat baik semula, niat kita akan berantakan manakala dihinggapi oleh sikap sombong, karena takabur akan melenakan kita, karena selalu merasa besar dan tidak rendah hati, sehingga bisa jadi menutup rapat-rapat niat baik yang sudah kita susun rapi.
3.    Putus asa, tak ada harapan lagi, ini yang dirasakan saat kita putus asa, ikhtiar kita serasa mentok, tak ada lagi peluang sehingga niat awal kita menjadi seolah tak terkejar.
Jauhilah tiga sikap tersebut di atas jika anda ingin niat anda terjaga sampai pada proses pencapaiannya dan mendapatkan ridho Allah SWT.
Adapun penyembuhnya juga ada 3, yakni :
1.    Ikhlash, kunci diterimanya sebuah amal adalah ikhlash, niatkan semua amal kita dengan ikhlash, pasti tidak akan sia-sia. Hanya dengan mengikhlaskan niat dan menjalankan niat dengan ikhlash kita akan menjadi lapang saat niat kita belum tercapai dan akan segar kembali manakala menemukan kebuntuan. Karena demikian perintah Allah dalam menjalankan ibadah, sebagaimana firman-Nya :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS Bayyinah :  5)
2.    Sungguh-sungguh, niat yang sungguh-sungguh bermakna actionnya juga sungguh-sungguh. Kalau hanya di awal saja, akan membawa kesia-siaan tenaga dan waktu kita. Maka marilah kita jaga kesungguhan niat kita, niscaya akan berefek kapada kekhusukan/ konsentrasi ibadah kita, baik dalam konsep ritual maupun aktual.
3.    Sabar, banyak yang beranggapan bahwa sabar itu bersifat defensif (bertahan), padahal nilai sabar itu adalah bergerak menjunjung niat baik yang telah kita tanam. Namun dalam situasi tertentu sabar dalam interprestasi bertahan sangat perlu, sekedar untuk refresh agar kita tidak mundur dan stress. Ya, dengan sabar, stress akan pergi, dengan sabar kita akan dapat menjaga niat kita. Sabarlah saat mengamalkan niat kita niscaya akan menemukan pencapaian maksimal. Kalaupun niat baik anda yang ikhlash ternyata dipersepsikan buruk oleh orang lain, maka itu adalah ujian karena misi dan niat yang kita bawa belum nyambung. Sebagaimana Q.S. Al Kautsar : 3, “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.
Manajemen niat, bermakna manajemen perasaan, agar kita tidak mudah putus asa dengan niat. Jagalah niat kita dengan ikhlash dan sungguh-sungguh mengamalkannya, niscaya akan menemukan ketenangan dan kekhusukan dalam menjalankan perintah Allah serta meraih ridho-Nya.
Asbabun nuzul

Terimakasih Ibu
oleh : Rofiq Abidin

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang orang tua (ibu-bapaknya); ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang (ibu-bapakmu), hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman : 14)

Tangisan pertama memecah suasana disambut senyum sang ibu, bapak dan keluarga yang ikut menyambut kehadiran kita di dunia. Sentuhan pertama tangan sang ibu yang penuh kasih menyamankan bathin kita, menenangkan tangis kita. Dalam ajaran Islam seorang ibu mendapat tempat penghormatan pertama karena peran kodratinya yang begitu penting bagi kelangsungan hidup sang anak. Baik peran sebelum lahir, yang dengan susah payah mengandung, memperhatikan asupan gizi maupun asupan yang bersifat ruhiyah untuk kelangsungan masa depannya. Begitupun peran setelah lahir, mulai dari peran tumbuh kembang fisiknya, kecerdasannya maupun peran edukatif lainnya. Ibulah yang senantiasa peka dengan bahasa kita, saat kita sedih maupun saat sedang gembira. Ibulah yang selalu tahu perasaan kita, saat sedang bermasalah, dalam kesulitan maupun sedang emosional, dengan senyum dan nasehatnya iapun menenangkan kita, memberi rasa damai dan optimisme menyambut tantangan dengan penuh rasa sabar. Dan tentunya ibu yang tidak pernah jijik membersihkan kotoran kita siang dan malam. Seorang bapak yang memiliki dua peran penting yakni sebagai seorang imam bagi keluarga dan pencari nafkah tetaplah memerlukan figur ibu yang menjalankan kebijakan sang ayah dan mengatur keuangan keluarga. Ada beberapa peran seorang ibu bagi anak- anaknya yang perlu kita pahami diantaranya sebagai berikut :

1.       Tumbuh kembang fisik dan psikis
Kasih sayang yang diwujudkan ibu dalam bentuk perhatian dan empati, sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, baik perkembangan fisik maupun mental psikisnya, dengan selalu menjaga diri saat mengandung, selanjutnya mengawasi perkembangan janin sampai melahirkan dengan mengorbankan jiwa raganya. Ibu tidak pernah merasa lelah untuk memberikan yang terbaik kepada anaknya, mulai dari keinginan makanan, mainan dan lain-lain, demi kebahagiaan anak seorang ibu melakukan apapun. Asupan gizi benar-benar akan diperhatikan demi sang anak, walau terkadang harus mengalah dengan kenakalan anaknya sendiri. Empatinya dalam setiap gerak-gerik anak, menjadikan ia makin paham mana perilaku yang harus dilakukan dan mana perilaku yang harus ditinggalkan.

2.       Peran edukatif
Sejak usia dini ibu begitu sabar mengajarkan apa saja yang belum kita tahu, mulai dari mengucapkan kata ayah/ abi/ bapak/ papa, merangkak, berjalan, belajar menulis, sampai kepada hal-hal baru yang belum kita pahami. Rasa keingintahuan anak justru memicu sang ibu untuk terus memerankan dirinya sebagai guru pertama dalam hidup sang anak. Walaupun anak sering bertanya banyak hal di saat-saat ibu sibuk, tapi justru itu kelucuan anak, sehingga ibu menjawab dengan penuh rasa sabar. Ibu memberikan pendidikan sepanjang hayat kepada anaknya dengan sepenuh hati, karena orang tua pasti senang manakala generasinya lebih baik dari dirinya. Allahpun juga telah mengingatkan kepada orang tua (bapak-ibu) agar tidak meninggalkan anak/ keturunan/ generasi yang lemah, baik lemah fisik, mental, intelektual maupun lemah iman. Namun kewajiban orang tua ialah mempersiapkan dengan mendidik anak menjadi anak yang kuat, kuat iman, kuat mental, kuat intelektual dan kuat fisik (sehat). Berikut ini firman Allah yang menganjurkan kepada para orang tua untuk mempersiapkan anaknya :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak- anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(QS. An Nisa’ : 9)

3.       Peran Aktualisasi
Dalam pengembangan diri seorang ibu tahu apa yang harus diberikan kepada anak, ketrampilan apa yang pas dan dapat dikuasai secara cepat dan bermanfaat. Dengan memahami bahasa qolbu si anak, ibu lebih peka ketimbang bapak, sehingga ibu selalu menjadi rujukan untuk memfasilitasi anak dalam mengembangkan potensinya. Kecermatan itu bukan tanpa alasan, karena biasanya anak lebih suka minta sesuatu kepada ibu daripada kepada bapak, itu karena ibulah yang bertugas mengatur keuangan rumah tangga. Untuk lebih mengaktualisasikan dirinya ibu selalu mengerti apa dan bagaimana langkah yang harus dipilih untuk si anak.

4.       Perkembangan mental
Dengan menjaga, mengawasi dan memfasilitasi si anak demi perkembangan mentalitasnya, ibu lebih hati- hati. Bekal iman yang ditanamkan kepada anak akan menjadi pengontrol dalam setiap langkah anak. Ibu akan gelisah dan paling khawatir saat anak tidak pulang pada jam sebagaimana biasanya. Sehingga ibu terkadang terkesan cerewet dengan ketidakdisiplinan anak, itu karena semata- mata demi kepentingan si anak sendiri. Pergaulan si anak akan benar- benar mendapat perhatian khusus dari ibu, apakah anak bergaul dengan orang- orang yang baik atau justru akan membawa pengaruh buruk baginya karena ibu tahu pergaulan adalah jendela yang mudah untuk mempengaruhi hal positif maupun negatif.

Takkan pernah habis jika kita bicara tentang jasa seorang ibu, ialah guru pertama kita, ialah pahlawan sejati kita dan pantaslah jika Rasulullah menempatkannya sebagai yang pertama, kedua dan ketiga orang yang wajib kita perlakukan dengan sebaik-baiknya, baru selanjutnya ayah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah datang kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya:, "Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu", dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?", Beliau menjawab, "Ibumu", dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?", Beliau menjawab, "Ibumu", dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Bapakmu". (HR Muslim)

Bersyukur kepada Allah atas segala karunia, termasuk keberadaan orang tua kita, ibu- bapak yang telah menjadikan kita pribadi yang seperti sekarang. Allahpun juga memerintahkan kepada kita untuk berterimakasih kepada orang tua (bapak-Ibu), karena ibu telah memerankan dirinya sebagaimana Allah perintahkan, mulai dari mengandung, melahirkan dan membesarkan kita. Kita ada karena Allah, dan Allah menghendaki kita ada karena do’a dan ikhtiar mereka (orang tua kita). Terima kasih ayah, terima kasih ibu yang kasih sayangnya tercurah sepanjang masa, guru pertama dan tersabar dalam kehidupan kita. Semoga kita semua dapat membahagiakan dan menjadi kebanggaan bagi orang tua, karena jasa mereka tiada tara, jasa mereka tak dapat dihitung dengan angka, dan akhirnya semoga ibu kita dianugerahkan kesehatan, kekuatan iman dan sabar menghadapi segala cobaan.

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © RAHMATAN LIL ALAMIN 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Templateism