Ad (728x90)

Selasa, 21 Februari 2012

Niat


SEMUA BERAWAL DARI NIAT
Oleh : Rofiq Abidin

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
(QS. Asy Syuura :20).

Dalam setiap pekerjaan kita, ada sebuah kehendak hati yang menggerakkan langkah kita, ialah niat. Semua yang kita lakukan menyimpan kepentingan-kepentingan, bisa jadi kepentingan itu bermanfaat, mudharat atau bahkan kepentingan itu kosong hanya sebatas kepuasan. Niat merupakan ruh dalam amal, niatlah yang akan menjaga semangat kita dan memotivasi kita. Jika kita mulai lemah dan lesu dalam mencapai sesuatu, kembalilah kepada niat baik anda, karena niat menyimpan tujuan, kepentingan dan obsesi anda. Niat akan meminyaki api semangat anda, karena getaran niat ini akan benar-benar menggetarkan emosi anda jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh khusyuk. Niat dapat mengembalikan kita untuk kembali, kembali kepada jalan kebenaran, yakni jalan Allah. Jika kita mulai berbelok arah, niatkan kembali karena Allah. Boleh jadi kita melakukan sesuatu tapi tidak sesuai dengan niat kita, kita meninggalkan niat yang pernah kita ikrarkan dalam hati dan kita komitmenkan dengan lisan, kita jadi berpaling dari arah tujuan semula. Islam sangat memperhatikan urusan niat ini, setiap amal dan peribadatan kita memang sangat ditentukan oleh niat. Rasulullah menegaskan dalam buah tuturnya (Al Hadits) :
Daripada ‘Umar bin al-Khaththab RA, dia berkata, Rasulullah (shalawat dan salam ke atas baginda) bersabda: “Sesungguhnya amal itu tidak lain hanyalah dengan niat dan sesungguhnya bagi setiap orang hanyalah apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah untuk dunia yang dia inginkan atau kerana seorang wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia berhijrah kerananya.

Niat dan Hijrah
Buah tutur Rasulullah SAW yang tertulis di atas ada dalam kitab Riadus Shalikhin pada halaman pertama, perihal ini menjadikan saya tertarik untuk membaca berulang-ulang, karena selama ini rata-rata kita hanya mendapat penggalan hadistnya saja yakni “insnamal a’malu bin niat” (sesungguhnya setiap amal tergantung/dengan niatnya). Namun ternyata sebuah perintah hijrahpun disertakan dalam hadist ini oleh Rasulullah SAW, bermakna adanya makna historis antara niat dengan hijrah. HIjrah merupakan salah satu amal yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW dan ummatnya untuk membangun diri (nafs), tempat peradaban dan aplikasi aturan-aturan Ilahiyah, sehingga wujudlah Madinah (sebuah tempat peradaban yang didalamnya diberlakukan aturan Allah oleh manusia). Apa kaitan niat dengan hijrah? Secara historis pada masa itu hijrah menentukan kelanjutan iman seorang muslim. Jadi jika niat berhijrah mestilah karena Allah dan Rasulnya, bukan untuk mendapatkan harta, wanita atau bahkan kelimpahan saat mencapai kemenangan. Semua kelimpahan pada masa yang akan datang adalah efek dari niat tulus kita untuk berhijrah, mengubah diri menjadi lebih baik, lebih sholeh, lebih sukses dan kemakmuran lainnya.

Semua Berawal dari Niat, Niatpun Tak Hanya di Awal Saja
Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkan. (HR. Bukhori)
Pernahkah anda mendengar celoteh “kamu ini gak niat”, itu adalah ungkapan kejengkelan seseorang saat melihat bawahan, teman atau rekan yang tampak kurang serius mengerjakan sesuatu, berarti ia sedang mengerjakan suatu pekerjaan, bukan sebelum mengerjakan. Niat memang akan tampak sungguh-sungguh atau tidak, saat seseorang sedang melakukan pekerjaannya. Contoh gampangnya saja, saat kita sholat, saat niat awal yang diikuti takbirotul ikrom kita khusuk, namun boleh jadi setelah selesai niat, pikiran kita mengembara kemana-mana, itu karena niat kita hanya di awal saja, maka kembalilah kepada niat semula, jagalah, sehingga kekhusukan akan begitu terasa. Niat itu adalah sebuah esensi penting yang harus kita bawa kemana-mana untuk mencapai tujuan akhir, niat juga sebuah visi yang akan membawa kita kemana kita melangkah, walaupun terkadang kita melupakannya karena menemukan sesuatu yang baru. Jadi awali semua dengan niat, kemudian jagalah, agar melakukan sesuatu itu penuh khusuk (dalam urusan ritual) dan penuh serius dalam urusan mu’amalah sehingga memperoleh khusnul khotimah (akhir yang baik/sukses).

Manajemen Niat
Niat baik akan membawa kepada kemanfaatan, niat jahat akan dapat menyeret kepada kemudharatan. Semua akan membawa efek masing-masing, maka ketulusan niat baik sangat berdampak kepada istiqomahnya amalan kita. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah manajemen niat, ini bukan bermakna monopoli niat, tapi lebih ke arah esensinya, agar menemukan keistiqomahan keridhoan Allah. Karena Allah maha tahu setiap gerakan kita, pun juga gerik hati kita, sedang berubah-ubah, istiqomah atau condong kepada keburukan. Allah sangat tahu apakah kita tulus atau bercampur dengan riya’, maka krentek hati kita akan menjadi pemicu gerak dan langkah kita, boleh jadi niat kita ingin mengubah, namun justru malah terpengaruh dengan fakta yang cenderung mundur, itu karena manajemen niat kita yang lemah. Mari kita renungi peringatan Allah berikut ini :
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari negerinya (untuk berjihad di jalan Allah) dengan berlagak sombong dan menunjuk-nunjuk (riya’) kepada orang ramai. [al-Anfal 8:47]
Setiap manusia yang sedang berniat baik, iblis tidak pernah terima, berbagai cara ia lakukan untuk mengurungkan niat kita. Perangkap yang bernama riya’ disiapkan untuk merusak niat baik kita, maka waspadalah. Setiap kebaikan murni akan terasa baik pula oleh nurani kita dan nurani manusia yang melihatnya, apalagi Allah yang maha tahu. Maka mengatur niat perlu kita lakukan agar tidak menemukan kesia-siaan. Ada tiga hal yang dapat merusak niat :
1.    Riya’, sebuah sifat perusak niat baik, yang menyimpan kepentingan agar kita dinilai baik, hebat, dan kuat. Ini bisa dirasakan atau bahkan kita tutupi dengan pembenaran-pembenaran sikap kita.
2.    Takabur, sebuah sikap yang menjadikan kita lupa diri dan lupa dengan niat baik semula, niat kita akan berantakan manakala dihinggapi oleh sikap sombong, karena takabur akan melenakan kita, karena selalu merasa besar dan tidak rendah hati, sehingga bisa jadi menutup rapat-rapat niat baik yang sudah kita susun rapi.
3.    Putus asa, tak ada harapan lagi, ini yang dirasakan saat kita putus asa, ikhtiar kita serasa mentok, tak ada lagi peluang sehingga niat awal kita menjadi seolah tak terkejar.
Jauhilah tiga sikap tersebut di atas jika anda ingin niat anda terjaga sampai pada proses pencapaiannya dan mendapatkan ridho Allah SWT.
Adapun penyembuhnya juga ada 3, yakni :
1.    Ikhlash, kunci diterimanya sebuah amal adalah ikhlash, niatkan semua amal kita dengan ikhlash, pasti tidak akan sia-sia. Hanya dengan mengikhlaskan niat dan menjalankan niat dengan ikhlash kita akan menjadi lapang saat niat kita belum tercapai dan akan segar kembali manakala menemukan kebuntuan. Karena demikian perintah Allah dalam menjalankan ibadah, sebagaimana firman-Nya :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS Bayyinah :  5)
2.    Sungguh-sungguh, niat yang sungguh-sungguh bermakna actionnya juga sungguh-sungguh. Kalau hanya di awal saja, akan membawa kesia-siaan tenaga dan waktu kita. Maka marilah kita jaga kesungguhan niat kita, niscaya akan berefek kapada kekhusukan/ konsentrasi ibadah kita, baik dalam konsep ritual maupun aktual.
3.    Sabar, banyak yang beranggapan bahwa sabar itu bersifat defensif (bertahan), padahal nilai sabar itu adalah bergerak menjunjung niat baik yang telah kita tanam. Namun dalam situasi tertentu sabar dalam interprestasi bertahan sangat perlu, sekedar untuk refresh agar kita tidak mundur dan stress. Ya, dengan sabar, stress akan pergi, dengan sabar kita akan dapat menjaga niat kita. Sabarlah saat mengamalkan niat kita niscaya akan menemukan pencapaian maksimal. Kalaupun niat baik anda yang ikhlash ternyata dipersepsikan buruk oleh orang lain, maka itu adalah ujian karena misi dan niat yang kita bawa belum nyambung. Sebagaimana Q.S. Al Kautsar : 3, “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.
Manajemen niat, bermakna manajemen perasaan, agar kita tidak mudah putus asa dengan niat. Jagalah niat kita dengan ikhlash dan sungguh-sungguh mengamalkannya, niscaya akan menemukan ketenangan dan kekhusukan dalam menjalankan perintah Allah serta meraih ridho-Nya.
Asbabun nuzul

Terimakasih Ibu
oleh : Rofiq Abidin

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang orang tua (ibu-bapaknya); ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang (ibu-bapakmu), hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman : 14)

Tangisan pertama memecah suasana disambut senyum sang ibu, bapak dan keluarga yang ikut menyambut kehadiran kita di dunia. Sentuhan pertama tangan sang ibu yang penuh kasih menyamankan bathin kita, menenangkan tangis kita. Dalam ajaran Islam seorang ibu mendapat tempat penghormatan pertama karena peran kodratinya yang begitu penting bagi kelangsungan hidup sang anak. Baik peran sebelum lahir, yang dengan susah payah mengandung, memperhatikan asupan gizi maupun asupan yang bersifat ruhiyah untuk kelangsungan masa depannya. Begitupun peran setelah lahir, mulai dari peran tumbuh kembang fisiknya, kecerdasannya maupun peran edukatif lainnya. Ibulah yang senantiasa peka dengan bahasa kita, saat kita sedih maupun saat sedang gembira. Ibulah yang selalu tahu perasaan kita, saat sedang bermasalah, dalam kesulitan maupun sedang emosional, dengan senyum dan nasehatnya iapun menenangkan kita, memberi rasa damai dan optimisme menyambut tantangan dengan penuh rasa sabar. Dan tentunya ibu yang tidak pernah jijik membersihkan kotoran kita siang dan malam. Seorang bapak yang memiliki dua peran penting yakni sebagai seorang imam bagi keluarga dan pencari nafkah tetaplah memerlukan figur ibu yang menjalankan kebijakan sang ayah dan mengatur keuangan keluarga. Ada beberapa peran seorang ibu bagi anak- anaknya yang perlu kita pahami diantaranya sebagai berikut :

1.       Tumbuh kembang fisik dan psikis
Kasih sayang yang diwujudkan ibu dalam bentuk perhatian dan empati, sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, baik perkembangan fisik maupun mental psikisnya, dengan selalu menjaga diri saat mengandung, selanjutnya mengawasi perkembangan janin sampai melahirkan dengan mengorbankan jiwa raganya. Ibu tidak pernah merasa lelah untuk memberikan yang terbaik kepada anaknya, mulai dari keinginan makanan, mainan dan lain-lain, demi kebahagiaan anak seorang ibu melakukan apapun. Asupan gizi benar-benar akan diperhatikan demi sang anak, walau terkadang harus mengalah dengan kenakalan anaknya sendiri. Empatinya dalam setiap gerak-gerik anak, menjadikan ia makin paham mana perilaku yang harus dilakukan dan mana perilaku yang harus ditinggalkan.

2.       Peran edukatif
Sejak usia dini ibu begitu sabar mengajarkan apa saja yang belum kita tahu, mulai dari mengucapkan kata ayah/ abi/ bapak/ papa, merangkak, berjalan, belajar menulis, sampai kepada hal-hal baru yang belum kita pahami. Rasa keingintahuan anak justru memicu sang ibu untuk terus memerankan dirinya sebagai guru pertama dalam hidup sang anak. Walaupun anak sering bertanya banyak hal di saat-saat ibu sibuk, tapi justru itu kelucuan anak, sehingga ibu menjawab dengan penuh rasa sabar. Ibu memberikan pendidikan sepanjang hayat kepada anaknya dengan sepenuh hati, karena orang tua pasti senang manakala generasinya lebih baik dari dirinya. Allahpun juga telah mengingatkan kepada orang tua (bapak-ibu) agar tidak meninggalkan anak/ keturunan/ generasi yang lemah, baik lemah fisik, mental, intelektual maupun lemah iman. Namun kewajiban orang tua ialah mempersiapkan dengan mendidik anak menjadi anak yang kuat, kuat iman, kuat mental, kuat intelektual dan kuat fisik (sehat). Berikut ini firman Allah yang menganjurkan kepada para orang tua untuk mempersiapkan anaknya :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak- anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(QS. An Nisa’ : 9)

3.       Peran Aktualisasi
Dalam pengembangan diri seorang ibu tahu apa yang harus diberikan kepada anak, ketrampilan apa yang pas dan dapat dikuasai secara cepat dan bermanfaat. Dengan memahami bahasa qolbu si anak, ibu lebih peka ketimbang bapak, sehingga ibu selalu menjadi rujukan untuk memfasilitasi anak dalam mengembangkan potensinya. Kecermatan itu bukan tanpa alasan, karena biasanya anak lebih suka minta sesuatu kepada ibu daripada kepada bapak, itu karena ibulah yang bertugas mengatur keuangan rumah tangga. Untuk lebih mengaktualisasikan dirinya ibu selalu mengerti apa dan bagaimana langkah yang harus dipilih untuk si anak.

4.       Perkembangan mental
Dengan menjaga, mengawasi dan memfasilitasi si anak demi perkembangan mentalitasnya, ibu lebih hati- hati. Bekal iman yang ditanamkan kepada anak akan menjadi pengontrol dalam setiap langkah anak. Ibu akan gelisah dan paling khawatir saat anak tidak pulang pada jam sebagaimana biasanya. Sehingga ibu terkadang terkesan cerewet dengan ketidakdisiplinan anak, itu karena semata- mata demi kepentingan si anak sendiri. Pergaulan si anak akan benar- benar mendapat perhatian khusus dari ibu, apakah anak bergaul dengan orang- orang yang baik atau justru akan membawa pengaruh buruk baginya karena ibu tahu pergaulan adalah jendela yang mudah untuk mempengaruhi hal positif maupun negatif.

Takkan pernah habis jika kita bicara tentang jasa seorang ibu, ialah guru pertama kita, ialah pahlawan sejati kita dan pantaslah jika Rasulullah menempatkannya sebagai yang pertama, kedua dan ketiga orang yang wajib kita perlakukan dengan sebaik-baiknya, baru selanjutnya ayah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah datang kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya:, "Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu", dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?", Beliau menjawab, "Ibumu", dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?", Beliau menjawab, "Ibumu", dia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Bapakmu". (HR Muslim)

Bersyukur kepada Allah atas segala karunia, termasuk keberadaan orang tua kita, ibu- bapak yang telah menjadikan kita pribadi yang seperti sekarang. Allahpun juga memerintahkan kepada kita untuk berterimakasih kepada orang tua (bapak-Ibu), karena ibu telah memerankan dirinya sebagaimana Allah perintahkan, mulai dari mengandung, melahirkan dan membesarkan kita. Kita ada karena Allah, dan Allah menghendaki kita ada karena do’a dan ikhtiar mereka (orang tua kita). Terima kasih ayah, terima kasih ibu yang kasih sayangnya tercurah sepanjang masa, guru pertama dan tersabar dalam kehidupan kita. Semoga kita semua dapat membahagiakan dan menjadi kebanggaan bagi orang tua, karena jasa mereka tiada tara, jasa mereka tak dapat dihitung dengan angka, dan akhirnya semoga ibu kita dianugerahkan kesehatan, kekuatan iman dan sabar menghadapi segala cobaan.

Sabtu, 05 November 2011

Memaind Set Haji


Menghajikan Hati
oleh : Rofiq Abidin
 Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim, barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji  adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
(QS. Ali Imran : 97)

Haji menjadi sebuah cita-cita mulia bagi segenap Umat Islam, namun tidak semua dapat menjaga cita-cita itu. Melihat teman, sahabat atau kerabat kita yang sedang akan menunaikan ibadah haji, timbul kerinduan yang membuncah untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Hati bergetar mendengar kalimat talbiyah seraya mendo’a semoga suatu saat nanti dapat memenuhi panggilan Allah tersebut. Hati yang selalu rindu untuk memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji inilah yang insya Allah dapat menguatkan kemauan dan kemampuan (istito’ah) sampai terwujud. Terkadang kesuksesan seseorang diukur dari seberapa besar dan lengkap  rumahnya, seberapa mewah mobilnya atau seberapa tinggi pangkatnya, namun dalam hatinya tidak terketuk sedikitpun untuk menunaikan ibadah ini sehingga haji menjadi panggilan Allah yang kesekian kalinya, setelah kita dapat memenuhi keinginan dunia kita, sedangkan kemampuan yang menjadi syarat utama menunaikan haji tidak didukung oleh kemauan kuat kita. Menghajikan hati mungkin memang hanya sebuah istilah, namun hati yang senantiasa rindu untuk menunaikan haji dan orang yang telah berhaji selanjutnya hati dan sikapnya sesuai dengan pengamalan haji adalah hati yang lurus dengan seruan Allah. Mengapa dikatakan di dalam haji “man istatha’a ilaih sabila (bagi yang mampu menempuhnya)?” karena haji merupakan ibadah jasmani dan harta. Ibadah haji perlu mengeluarkan harta untuk berpindah (melakukan perjalanan) dari negerinya ke wilayah Al Haram di tanah suci, karena ritual (syiar) haji dilaksanakan di sana, karena itu ia sangat memerlukan harta (biaya) yang banyak, karena itu Allah berfirman: “Bagi yang mampu melakukan perjalanan haji”. 
Gelar Haji atau Haji Mabrur
Sudah menjadi kelaziman dalam masyarakat Indonesia bahwa bagi siapa yang telah menunaikan  rukun islam yang kelima ini, yakni haji, maka masyarakat memberikan gelar  Haji atau Hajjah (bagi wanita).  Mabrur berasal dari kata birr, birrun; artinya “baik, bersih dan diterima”. Maka haji mabrur secara terminologis bermakna “haji yang baik, bersih dan diterima oleh Allah SWT”. Haji mabrur merupakan sebuah predikat tertinggi dari kegiatan melaksanakan ibadah haji. Untuk mendapatkannya, setiap calon haji harus melalui perjuangan ibadah yang sungguh-sungguh, terutama dalam hal penguasaan hati. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah 197 :

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Tiga rambu-rambu yang harus dipatuhi agar seorang calon haji bisa meraih predikat haji mabrur: 
1.      Jangan sekali-kali mengucapkan kata kotor yang merendahkan martabat orang lain.
2.      Tidak boleh berbantah-bantahan atau membuat permusuhan dengan siapapun sesama jamaah.
3.      Tidak boleh berbuat fasik, yaitu merugikan orang lain. Bahkan sekalipun dengan alasan untuk mendapatkan pahala yang lebih besar, ternyata justru menyakiti orang lain. Misalnya berebutan pada waktu usaha menuju Hajarul Aswad di sisi Ka’bah dan Raudhah di Mesjid Nabawi Madinah, dua situs sempit yang justru paling disesaki jamaah. Atau demi mengejar pahala sholat arbain (40 waktu) tetapi tidak peduli dengan anggota jamaah yang sakit untuk mengantarkannya ke dokter / rumah sakit.
Ketiga rambu di atas sering menjadi ujian di tengah pelaksanaan ibadah haji, dengan berbekal takwa dilatih bersabar, tetap khusyuk tanpa diganggu penyakit hati. Ujian lainnya yang tak kalah penting adalah menghindari godaan berbelanja barang-barang sebagai buah tangan saat kembali ke tanah air. Apalagi, tawaran berbelanja ini sudah muncul sejak para jamaah mendarat di tanah suci, belum lagi kalau ingat titipan dari sanak keluarga dan teman di kampung halaman. Perkara yang sebenarnya manusiawi tetapi apabila tidak pada proporsinya bisa menggeser fokus hati dalam beribadah haji. Ingatlah kita datang kembali ke tanah air bukan ingin dipanggil Pak Haji atau Bu Hajjah, tapi sepulang dari tanah suci bathin dan langkah kita menuntut untuk meningkatkan amaliah kita melebihi orang yang belum melakukan ibadah haji, bahkan mungkin masyarakat juga akan menuntut kehajian kita. Bukan gelar atau predikat haji yang kita cari, tapi predikat “mabrur” dari Allah yang kita harapkan. Maka kita dipanggil haji atau tidak yang penting Allah memberi predikat mabrur. Bagaimana Allah memberi predikat itu, tentunya Allah mengevaluasi mulai dari niat kita, pelaksanaan ibadahnya dan pengamalan sesudah melaksanakan haji.

Menghajikan Hati Kita
Mind set haji tetaplah kita tanam dalam-dalam, jangan hanya kita pandai me-mind set mobil, rumah atau gemerlap dunia lainnya,  yang kita anggap sebagai ukuran kesuksesan, sehingga kewajiban yang satu ini dinomersekiankan. Karena jika diri kita sudah diberi Allah “kemampuan”, tinggal kita cari kesempatan untuk menunaikannya. Maka sebelum dan sesudah menunaikan ibadah haji marilah menghajikan hati kita, dalam makna bersihkanlah hati kita dengan memurnikan niat,  kemudian kendalikan hati kita saat menunaikannya dan hiasilah hati kita dengan amalan-amalan haji sepulang dari haji. Bagi yang belum bisa menunaikan ibadah haji secara ritual, hajikanlah hati anda dengan terus menjaga cita-cita untuk menunaikannya, kuasai rukun dan amalan-amalan haji serta kerjakanlah amalan-amalan haji dalam kehidupan sehari-hari. Adapun rukun  haji yang dapat kita ambil hikmahnya adalah sebagai berikut :
1.      Ihram, yaitu pernyataan mulai mengerjakan ibadah haji atau umroh dengan memakai pakaian ihram disertai niat haji atau umroh di miqat.
2.      Wukuf, yaitu berdiam diri, dzikir dan berdo'a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.
3.      Tawaf Ifadah, yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah.
4.      Sa’i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah.
5.      Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut setelah melaksanakan Sa'i.
6.      Tertib, yaitu mengerjakan kegiatan sesuai dengan urutan dan tidak ada yang tertinggal.

Lima rukun haji tesebut di atas marilah kita kuasai dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ihram merupakan permulaan yang baik, mari kita mulai semua amalan keseharian dengan niat yang baik, dengan sarana yang suci dan halal. Jadi biasakan kita mencari sarana/fasilitas dengan cara yang halal dan suci, karena semua aktivitas kita dalam rangka beribadah kepada Allah semata. Selanjutnya, wukuf, sering-seringlah kita berdzikir karena Allah sangat menganjurkan untuk memperbanyak dzikir, bukan do’a saja yang diperbanyak. Dzikir dan do’a ibarat hak dan kewajiban. Mari kita perbanyak dzikir dan perjelas do’a agar mind set kita untuk menunaikan haji dapat Allah ijabah. Kemudian tawaf, mengelilingi baitullah, mari kita “saba” (datangi) masjid dan kita usir nafsu malas dengan melempari syetan yang terus berbisik mengajak kepada kejahatan dan kedholiman. Sa’i, adalah berlari-lari kecil, kita ingat betapa sejarahnya, bahwa Ibu Hajar adalah seorang yang tidak pernah berhenti berikhtiar. Jadilah penyabar walau dalam keadaan kering, ditinggal orang yang kita sayangi, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar berikhtiar dan akan mencukupkan keperluannya. Tahallul, disamping makna kerapian, maka tahallul bisa kita ambil hikmah dengan mencukur pemikiran-pemikiran yang kotor atau rencana-rencana jahat, sehingga kita gunakan kecerdikan kita untuk kebaikan. Yang terakhir adalah tertib, mari kita jalankan semua amalan kita dengan tertib berdasarkan ilmu dan sesuai dengan prinsip-prinsip Ilahiyah.

Setidaknya ini adalah ikhtiar penulis untuk tetap me-mind set haji, agar suatu saat dapat memenuhi panggilan Ilahi. Karena Haji adalah panggilan, pun dunia juga memanggil-manggil kita untuk memilikinya, namun panggilan Haji menjanjikan kenikmatan yang melebihi dunia. Mudah-mudahan kerinduan haji yang membuncah dalam hati kita dapat terwujud saatnya nanti sebelum Allah memanggil nyawa kita. Semoga bermanfaat.

Ini Ceritaku...


Hidup Kedua
Baiklah...saya juga mau cerita...ini fakta. Sewaktu aku masih usia belasan tahun, seingat saya masih kelas satu SMP.  Saya lagi senang-senangnya melihara burung dara, tahu kan? merpati, saampai mencapai hampir 30 an gitu lah.. Beberapa kali terakhir,merpatiku pada bertelor, namun setelah menetas, eh piyek (anak merpati) selale saja dimakan
oleh kucing, karena terbangnya belum terlatih. Nah pada suatu saat menetas lagi, aku rawat dan aku jaga baik2, aku latih ia terbang dan alhamdulillah ia bisa, betapa senangnya aku saat itu, dia nurut banget sama aku. Namun apa yang terjadi, saat pagi hari, tanggal 27 Ramadhan, saya melatih kembali merpati ini, eh tahu tahu dia terbang ke arah sumur, maka terjatuhlah ia...aku pun kaget...wah merpatinya terjatuh! teriakku...yang saat itu ada adik saya. Kamipun berencana  mengambil merpati kecil ini, aku putuskan untuk masuk ke dalam sumur yang kedalamannya sekitar 17 meter, yang  emang sumur ini aku ikut menggalinya. Tali timbapun saya pengang dan adik saya menjaga di atas sumur.  erlahan-lahan akupun masuk sumur tanpa hambatan, namun sampai bawah lubang tangga sumur untuk membantu turun telah habis, namun dengan sabar akupun bisa turun hingga kakiku mampu  engangkat merpeti kecil yang hampir mati ini, kuletakkanlah merpati ini di timba kecil, lalu diangkatlah keatas  timba ini bersama merpai kecil oleh adik saya. Namun saya di bawah mau naik kebngungan tanpa alat apapun untuk naik, akhirnya akupun terjatuh "jegurrrrrr", nafasku mulai sesak, sambil memanggil adik saya agar segera menurunkan timbanya, namun adik saya panik dan meninggalkan saya, memanggil bapak. Akhirnya diatas kulihat sayu-sayu "tampak keramaian", Bapak saya mau ikut turun  enyelamatkan aku, namun ibu pun melarang untuk turun. Karena kehabisan nafas dan sesak sekali rasanya aku asarah  dan berucap "Ashadu an lailaha Illallah waashadu anna muhammadarosuullah, Ya Allah ampuni segala osaku, Ibu, bapak, adik-adikku dan semuanya maafkan segala salahku", ucapku lirih...namun tiba-tiba  apala saya kejatuhan timba "cethok",saya pun kaget...dan mendengar teriakan "pegang kuat tali timba itu", maka ku pengang..dan aku diangkat dengan sangat cepat samapai tanganku terjepit poros yang igunakan untuk menaik turukan timba. Alhamdulilah saya selamat..namun anehnya saya merasa tidak minum air dan akupun melanjutkan puasa...semoga bermanfaat..

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © RAHMATAN LIL ALAMIN 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Templateism