Ad (728x90)

Kamis, 08 Maret 2012

hidup kedua


Ini Ceritaku...


Hidup kedua

Baiklah...saya juga mau cerita...ini fakta. Sewaktu aku masih usia belasan tahun, seingat saya masih kelas satu SMP. Saya lagi senang-senangnya melihara burung dara, tahu kan? merpati, saampai mencapai hampir 30 an gitu lah.. Beberapa kali terakhir,merpatiku pada bertelor, namun setelah menetas, eh piyek (anak merpati) selale saja dimakan
oleh kucing, karena terbangnya belum terlatih. Nah pada suatu saat menetas lagi, aku rawat dan aku jaga baik2, aku latih ia terbang dan alhamdulillah ia bisa, betapa senangnya aku saat itu, dia nurut banget sama aku. Namun apa yang terjadi, saat pagi hari, tanggal 27 Ramadhan, saya melatih kembali merpati ini, eh tahu tahu dia terbang ke arah sumur, maka terjatuhlah ia...aku pun kaget...wah merpatinya terjatuh! teriakku...yang saat itu ada adik saya. Kamipun berencana mengambil merpati kecil ini, aku putuskan untuk masuk ke dalam sumur yang kedalamannya sekitar 17 meter, yang emang sumur ini aku ikut menggalinya. Tali timbapun saya pengang dan adik saya menjaga di atas sumur. erlahan-lahan akupun masuk sumur tanpa hambatan, namun sampai bawah lubang tangga sumur untuk membantu turun telah habis, namun dengan sabar akupun bisa turun hingga kakiku mampu engangkat merpeti kecil yang hampir mati ini, kuletakkanlah merpati ini di timba kecil, lalu diangkatlah keatas timba ini bersama merpai kecil oleh adik saya. Namun saya di bawah mau naik kebngungan tanpa alat apapun untuk naik, akhirnya akupun terjatuh "jegurrrrrr", nafasku mulai sesak, sambil memanggil adik saya agar segera menurunkan timbanya, namun adik saya panik dan meninggalkan saya, memanggil bapak. Akhirnya diatas kulihat sayu-sayu "tampak keramaian", Bapak saya mau ikut turun enyelamatkan aku, namun ibu pun melarang untuk turun. Karena kehabisan nafas dan sesak sekali rasanya aku asarah dan berucap "Ashadu an lailaha Illallah waashadu anna muhammadarosuullah, Ya Allah ampuni segala osaku, Ibu, bapak, adik-adikku dan semuanya maafkan segala salahku", ucapku lirih...namun tiba-tiba apala saya kejatuhan timba "cethok",saya pun kaget...dan mendengar teriakan "pegang kuat tali timba itu", maka ku pengang..dan aku diangkat dengan sangat cepat samapai tanganku terjepit poros yang igunakan untuk menaik turukan timba. Alhamdulilah saya selamat..namun anehnya saya merasa tidak minum air dan akupun melanjutkan puasa...semoga bermanfaat..

goo hidup


mimpi

GOAL HIDUP KITA
Oleh: Rofiq Abidin Katakanlah: sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). "(Al An'am: 162,163) Uforia bola kembali menarik perhatian insan sejagad, semua mata tersorot kesana. Pagelaran empat tahunan word cup yang digelar di Afrika Selatan memberi makna tersendiri bagi para "gibol" (gila bola), fans-fans berat benrdandan dengan gila-gilaan demi tim dan pemain kesayangannya. Para pemain berunjuk gigi memperlihatkan kemampuannya demi menunjukkan rasa cintanya kepada negaranya. Apa hikmah dari beragam aksi nyata yang diperankan mereka (supporter dan pemain) yang bisa kita petik? Coba sejenak kita hayati bahwa sesungguhnya dibalik segala perbuatan dan tindakan kita ada dorongan yang kuat untuk memuaskan bathin kita. Ada sebuah goal yang kita capai dalam hidup kita, dan akan kita persembahkan untuk siapa / apa goal itu. Jika kita berbuat / bekerja dengan cinta, kita tidak akan merasakan beban, walau seberat apapun pekerjaan / tugas kita. Kita menikmati pekerjaan kita, kita akan senantiasa merayakan setiap kemenangan-kemenangan kecil kita untuk menjaga tren kemenangan / kesuksesan selanjutnya, kita akan tetap optimis menuju kemenangan besar. Segala amaliyah kita, baik itu sholat kita, pengorbanan kita, hidup kita dan mati kitapun mengikuti kehendak Allah SWT, Rabb segenap alam semesta. Rasa cinta yang mendalam kepada Rabb (Agenda) Allah SWT akan terus membimbing kita dalam setiap langkah hidup kita, sehingga kita menemukan kepuasan dan kesejukan yang begitu menyamankan bathin kita, seolah olah kita telah meng-goal-kan bola tujuan kita ke gawang tujuan akhir kita. Menetapkan Goal Hidup Sesuatu yang kita cita-citakan tidak bisa datang begitu saja, perlu sebuah proses, sebagai bentuk tawakal kita kepada Allah. Nah sebelum kita memprosesnya, marilah kita menetapkan goal-goal hidup kita dengan sejelas-jelasnya, berapa estimasi waktunya, sebagai acuan proses yang akan kita kerjakan. Kenapa perlu kejelasan, karena kejelasan adalah sebuah kekuatan yang akan membimbing prosesnya demi tercapainya keinginan kita. Allah mengajak kita untuk mempersiapkan masa depan kita melalui firmanNya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18) Pesan Ilahi tersebut di atas, memberikan seruan untuk mukmin untuk senantiasa bertaqwa dan berbuat untuk meraih masa depannya. Untuk menetapkan goal hidup kita memang perlu kejelasan untuk meraihnya. Ada tiga hal yang diajarkan Allah untuk menumbuhkan sikap afirmatif. Pertama adalah Keimanan yang mendalam, sebagai landasan untuk membentuk optimisme yang kuat dengan apa yang dikehendakinya, karena dari optimesme inilah seseorang akan memulai dan memproses kehendaknya. Selanjutnya ketaqwaan adalah kunci meraih kinerja puncak (derajad tertinggi) disisi Allah dan dihadapan manusia, kedisiplinanlah praktek dari ketaqwaan ini, kita disiplin dengan aturan-aturan Ilahiyah yang telah kita sadari sebagai alat kontrol progres pencapaian prestasi kita. Berikutnya action / perbuatan merupakan wujud ikhtiar kita untuk mencapai goal-goal hidup kita, secara kreatif melakukan trobosan-trobosan sehingga mencapai goal indah yang akan menjadi tauladan bagi generasi selanjutnya, bukan sekedar yakin tapi tindakan yang dipersiapkan dan diterapkan dengan penuh kedisiplinan. Maka pijakan dari penetapan goal kita perlu memperhatikan tiga hal tersebut, dengan memperhitungkan keyakinan, kedisiplinan dan action yang telah kita lakukan niscahya Allah akan membimbing prestasi yang kita tetapkan. Merayakan Goal Hidup live celebration (perayaan kehidupan) itulah yang akan dapat menjaga tren kesuksesan kita, trend positif dan kelimpahan dalam kehidupan kita. Kita mengawalinya dengan mensyukuri segala kemampuan , keahlian dan karunia Allah apapun yang diberikan kepada kita, menikmati udara dan menatap hari dengan penuh senyuman. Adalah awal yang sangat baik jika setiap hari kita dapat memulainya dengan rasa syukur itu, kita menyambut anak kita dengan nuansa bahagia dan menyambut sekitarnya dengan penuh live celebration . Sehingga alam ini akan merespon getaran positif yang kita ekspresikan dengan goal-goal kemenangan dan kelimpahan. Coba sejenak kita hayati bagaimana pesan Allah berikut ini: Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan (QS. Al Hajj: 77) Goal-goal kemenangan yang kita dapatkan merupakan hasil alamiah kita karena ikhtiar kita telah dievaluasi oleh Allah sehingga kita cepat mendapatknnya. Apapun kemenangan kecil rasakanlah, jangan meremehkannya, rayakanlah dengan penuh rasa syukur. Bentuk syukur yang diajarkan dalam Al Qur'an surat Al Kautsar: 2, yakni sholat dan berqurban merupakan ekspresi nyata untuk dapat terus melanjutkan kemenangan-kemenangan selanjutnya. Dalam setiap sujud dan ruku 'kita kepada Allah saat melakukan sholat secara khusuk, jiwa kita akan kontak langsung dengan Allah Dzat yang maha halus, ekspresi syukur kita akan terasa dalam, kita akan merasakan relaksasi yang menyamankan jiwa dan fresh kembali setelah kita jemu dengan keruwetan dunia. Kita akan kembali segar menambah goal-goal kemenagan, itulah sholat sebuah terapy jiwa yang luar biasa jika kita benar-benar melakukannya dengan khusuk, bentuk live celebation yang diajarkan dalam islam, karena didalam goal-goal kemenangan yang kita raih ada faktor X, yakni tolong Allah sehingga fasilitas dan kelimpahan senantiasa kita dapatkan. Selanjutnya berkurban merupakan bentuk syukur yang dapat memuaskan jiwa, karena berkurban yang didasari kesadaran adalah pengejawentahan empati sosial yang penuh keikhlasan. Live celebration yang dilakukan dengan berkurban ini, akan menarik secara berlipat dari pada apa yang telah kita qurbankan, sehingga keberkahan terus berdatangan. Karena pada hakekatnya kelimpahan adalah bukan apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita dapatkan. Maksudnya hadirnya kelimpahan adalah datang bukan kita cari, sebagaimana kekhusukan dalam sholat sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kita ciptakan namun sesuatu yang datang, karena keasyikan jiwa kita yang telah kontak langsung dengan Allah, Rabb semesta alam. Dengan senantiasa menjaga jiwa untuk terus kontak dengan Sang Pencipta, kita akan terus terbimbing di jalanNya. Goal-goal kemenangan bukanlah sesuatu yang ujuk-ujuk, namun dihadiahkan oleh Allah kepada kita pada keyakinan, ketaqwaan dan amal kita. Yakinlah dengan kemampuan yang kita miliki, karena kemampuan kita adalah anugerah yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk mengelola beragam persoalan yang datang kepada kita, kemampuan kita ini merupakan ukuran yang mewadahi cita-cita kita, maka kemampuan kita bukan untuk didiamkan tapi ayo kita bangun demi kebahagiaan sejati yang kita harapkan. Baik kebahagiaan di dunia maupun nanti kembalinya jiwa kita kepada Allah dengan membawa pundi-pundi goal kebaikan yang mendampingi dan membahagiakan kita di akhirat. 

Berquban


Berqurban

MENCAPAI PUNCAK 
KESADARAN berqurban 
Oleh: Rofiq Abidin 
Secara simbolik qurban adalah merupakan penyembelihan hewan ternak (kambing, sapi / kerbau, unta) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Qurban ini merupakan ritual estafeta yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS sebagai perwujudan ketaatan total kepada sang khalik Allah SWT. Hasil Ibrahim AS untuk melaksanakan syariat Qurban dengan melakukan penyembelihan kepada Ismail anaknya yang kemudian diganti domba oleh Allah adalah keputusan berani yang dilandasi oleh keyakinan dan kepatuhan serta kecintaan kepadaNya. Karena pengamalan syariat qurban tersebut menyiratkan refleksi mendalam yang menghasilkan independensi tafkir dan aqidah hingga mencapai puncak kesadaran berqurban. Mempersembahkan persembahan kepada Tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejak lama. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradapan manusia yang beragam mengenal persembahan kepada Tuhan, baik berupa penyembelihan hewan maupun manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu tradisi tersebut. Persembahan suci dengan menyembelih manusia juga dikenal peradaban Arab sebelum Muhammad lahir. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muththalib Bin Hasyim, kakek Rasululluah, pernah bernadzar jika ia dikaruniai karunia 10 anak laki-laki maka akan menyembelih salah satu putranya disisi ka'bah sebagai qurban.ketika putranya telah genap sepuluh dan menginjak baligh, maka jatuhlah dinilai kepada Abdullah, ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraish berusaha melarangnya agar tidak diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Mutalib sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta. Kisah Ibrahim AS dan Abdul Muththalib terdapat sebuah hikmah tentang "kesadaran berqurban" sehingga dapat mencapai hasil berani yang dilandasi keyakinan, kepatuhan dan kecintaan kepada Allah SWT. Munculnya expresi tauhid tersebut adalah dipicu dari rasa syukur mendalam kepada Allah SWT. Kesadaran mendasar Untuk Berqurban Bangkitnya kesadaran berqurban akan dimulakan dari rasa syukur yang tinggi atas segala karunia Allah yang diberikan selama hidupnya. Karena sesungguhnya nikmat Allah SWT tak akan dapat dihitung, mari kita cermati pesan Ilahi dalam surat Al Kautsar 1-3:1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. 2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah 3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus Setidaknya ada tiga nikmat utama yang harus kita syukuri, pertama adalah nikmat hidup, kita tidak pernah bercita - cita untuk hidup karena sesungguhnya menghendaki hidup adalah Allah sang maha pencipta. Kedua nikmat kemerdekaan berpikir, sebagai sesuatu kelebihan dari makhuk apapun yang diciptakan Allah, sehingga dengan akal kita dapat secara merdeka menentukan pilihan jalan hidup yang sekaligus dapat mengetahui resiko logis dari pilihan jalan tersebut. Ketiga, nikmat hidayah iman, menjadi sesuatu yang berharga untuk mengendalikan pikiran dan sikap sehingga dapat menentukan keselamatan hidup baik dunia maupun akhirat. Tiga nikmat utama ini telah menjadi alasan utama bagi manusia untuk mensyukuri nikmat Allah disamping nikmat - nikmat Allah yang lain yang tak bisa dihitung. Perasaan syukur yang telah bersemayam dalam dada, semestinya diekspresikan dalam wujud syukur riil yakni sholat dan berqurban, itulah bentuk syukur nyata yang telah dijelaskan sebagai bentuk perintah. Bersyukurlah kita dengan segala kesempurnaan hidup yang telah kita miliki dengan wujud syukur yang riil diantaranya dengan berqurban untuk kemaslakhatan umat manusia. Refleksi Kesadaran Bersyukur Kepekaan muslim terhadap lingkungan sekitar akan melantari kesadaran untuk selalu mensyukuri apa - apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Pelatihan dan pembelajaran sebenarnya telah disediakan dilingkungan kita, baik ketimpangan - ketimpangan adannya gelandangan, pengangguran, saudara sakit yang berkepanjangan dan apapun keadaan kemanusiaan yang lebih sengsara dari kita. Semua yang terjadi telah ditentukan rumusnya oleh Allah yang maha berkehendak. Maka kondisi kita hari ini adalah kehendak Allah yang harus disyukuri walau mungkin ada yang terasa berat kita rasakan, namun janganlah merasa paling sengsara karena akan dapat menciptakan dinding untuk mensyukuri nimat Allah. mari kita renungkan pesan Ilahi berikut ini: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al - An'am: 44). Terkadang seseorang diberi peringatan oleh Allah tidak nyambung, maksudnya tidak ada kepekaan bahwa peringatan yang terjadi itu seolah - olah tidak ada korelasinya dengan perbuatan dosanya. Maka orang yang seperti ini justru akan dibukakan pintu - pintu kesenangan, sehingga ketika ia telah merasa sukses, dan girang dengan kesuksesannya lantaran meninggalkan perintah Allah, maka Allah memberikan siksa dengan sekonyong - konyong (hasil akumulasi dosa yang telah diperbuatnya). Maka ketika itu mereka akan terdiam dan putus asa (terpasung, tidak bisa berbuat apa - apa). Pesan Ilahi ini memberikan hikmah agar kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita, sebelum datangnya peringatan Allah yang berwujud tegoran bahkan siksa maka segeralah kita sadar untuk mensyukuri nikmatNya dengan wujud syukur riil, bukan hanya secara verbal semata. Mencapai Puncak Kesadaran Berqurban Tingkat kesadaran seseorang untuk berqurban tergantung kepekaan dan empati terhadap lingkungan sekitar. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya qurban. Adapun untuk mencapai puncak kesadaran berqurban sebagaimana yang pernah dipraktekkan Ibrahim AS dan Abdul Muththalib bin Hasyim atau Aktion syukur yang lain yang pernah diamalkan untuk kemaslakhatan manusia dibutuhkan refleksi secara bertahap. Mari kita refleksi jiwa taqwa kita dengan beberapa hal di bawah ini:1. Melatih Empati dan Kepedulian Terhadap Sesama dan Lingkungan Pada setiap ketimpangan sosial yang terjadi memberikan ujian kepekaan nurani bagi kita, sejauh mana jangkauan perasaan kita untuk mengulurkan tangan, melakukan sesuatu kebaikan atau hanya bisa ngersulo tanpa tindaan apa - apa. Maka ujilah empati dan kepedulian kita terhadap ketimpangan - ketimpangan sosial yang terjadi didepan kita dengan amal nyata untuk menggugah kesadaran berqorban. 2. Menggugah Jiwa Itsar Mendahulukan kepentingan orang lain (Jalan Allah) walaupun dirinya sedang membutuhkan adalah merupakan aksentuasi soaial dan pengertian dari itsar. Sikap itsar ini pernah dipraktekkan oleh kaum anshar kepada kaum muhajirin ketika baru saja melakukan hijrah dari Makkah ke Jasrib, mereka memberikan rumahnya dan membagi harta bendanya serta menawarkan diri untuk menjadi saudara. Fenomena sosial yang terjadi memberikan kita kesempatan untuk melatih jiwa itsar kita sedekat apa perasaan kita terhadap kejadian - kejadian alam dan sekitarnya. Peduli untuk berbagi adalah merupakan praktek qurban secara kontektual. 3.Membunuh Jiwa kehewanan Berqorban secara kontekstual dengan membunuh sifat - sifat kehewanan diantaranya: Hubud dunya (terlalu cinta terhadap kebendaan) egois, berbuat semaunya (melanggar hukum dan norma - norma), takabur, free sex, membunuh sesama (kejahatan kemanusiaan), serakah dan lain - lain yang menimbulkan kerusakan. Dengan membunuh sifat - sifat kehewanan maka kita akan mudah tersentuh untuk mensyukuri nikmatNya dalam wujud riil yakni pengabdian / Ibadah sholat sebagai komunikasi langsung dengan Allah dan Berqurban untuk mendekatkan siri kepadaNya dan kesejahteraan umat. 4.Pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT Setiap perintah Allah mesti kita yakini sebagai hal positif, tidak ada satupun perintah Allah yang termaktub dalam Al qur'an adalah negatif dan tidak ada keraguan didalamnya. Mari kita renungkan syari'at Qurban berikut ini: dan untuk tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al Hajj: 34) Ayat diatas secara tegas telah mensyari'atkan kurban untuk tiap - tiap individu umat sebagai wujud ketaatan total / kepatuhan kepada Allah yang telah menciptakannya . Seseorang yang telah mencapai kesadaran total untuk mentaati segala keputusan Allah mealui wahyunya. Allah itu maha baik maka segala perintahnya bernilai dan pasti berdampak baik, sebagai hamba dan ciptaanNya sudah semestinya menta'ati segala RubbubiyahNya (aturan) yang telah ditetapkan untuk kemaslakhatan dan keselamatan baik di dunia dan di akhirat. Seorang mukmin akan mengimani / meyakini secara penuh bahwa perintah Allah selalu benar, termasuk qurban juga sebagai bentuk pembenaran dan pembuktian keyakinan tentang Allah dan syariatNya. Berbagai keindahan dunia akan senantiasa menguji mukmin, baik harta, anak atau kemewahan yang menjanjikan kepuasan adalah merupakan sesuatu yang bisa diraih dan memang kebahagiaan adalah obsesi setiap manusia. Namun segala keduniaan tak boleh membutakan kita untuk mengabdi kepadaNya, karena dibalik itu akan menguji kecintaan terhadap Allah SWT. Maksimalitas upaya untuk membuktikan keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT akan mengakselerasi pemahaman dan sikap mukmin untuk mencapai puncak kesadaran berqurban. Karena didalamnya akan menyiratkan semangat yang menggelora untuk merenungi nikmat Allah yang tiada tara yang dibarengi rasa syukur kepada Allah SWT. Segala sifat dan karakter hewaniah baik yang berbentuk merusak atau pelanggaran terhadap norma - norma yang berlaku akan bisa kita lenyapkan dengan kesadaran untuk mengejawentahkan qurban dalam kehidupan baik secara simbolik maupun secara kontekstual. Sebagai pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT yang maha baik dan benar. 

budaya


kontra budaya positif

MEMULAI PERADABAN
DENGAN KONTRA BUDAYA POSITIF Oleh: Rofiq Abidin 1. demi waktu. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Perjalanan sejarah manusia tak akan lepas dari peradaban yang senantiasa bergulir dinamis, sains dan teknologi nyaris terus bergerak maju tanpa mengenal batas - batas teritorial dan bahkan ideialisme sampai kepenjuru belahan dunia. Teknologi informasi menjadi titik tolak progresifitas perubahan peradaban yang kian dinamis dan signifikan terutama tiga bidang yang paling dominan yakni mikrochip, komputer dan satelit. Lantas siapakah yang menguasai teknologi saat ini? menurut UNESCO (dalam Science, Technology and Developing Countries) bahwa Amerika Serikat menumbuhkan dan hampir menggenggam hampir sepertiga dari seluruh riset dan pengembangannya, sepertiga lagi dikembangkan oleh Eropa barat dan Jepang dan hampir sepertiga lagi oleh Rusia.Bagaimana dengan negara muslim? Belum ada satu negara muslim pun yang dijadikan kiblat bidang iptek karena porsi kepemilikan risetnya hanya sekitar tiga persen dari seluruh riset yang dikembangkan didunia ini. Mungkin baru Iran dan Pakistan yang telah memulai mendalami bidang iptek tingkat tinggi yakni teknologi nuklir namun menemukan jalan yang terjal dengan segala kontraversinya. Zaman seaakan memberi sinyal kepada kita untuk bersiap dan bersikap tersedia mengahadapi seleksi global, siapa yang akan berhasil dengan berbagai kemajuan peradaban dan siapa yang akan menjadi penonton atau bahkan menjadi pecundang karena batasan - batasan kepahaman yang seakan menjadi dinding tebal untuk menguasai bidang teknologi informasi. Ajaran Islam yang begitu komprehensif dan fleksible sangatlah mendorong perihal teknologi Informasi namun tinggal bagaimana pelaku yakni umat islam sendiri, jangan sampai hanya bisa membangga - banggakan sesuatu prestasi peradaban yang pernah diraih pada masa keemasan khilafah dinasti Abasiyah namun mesti memulai bergerak membangun peradaban maju dan menatap terbuka terhadap berbagai peningkatan science dan teknologi sehiinga muncul kontra budaya positif walaupun dengan berbagai kontraproduktif. Karena jika tidak demikian umat islam akan sulit bergaul dan menempatkan Din (agama) dan dirinya dalam tataran internasional. Kesempatan yang diberikan Allah kepada manusia adalah merupakan anugerah yang sangat berharga karena, masa lalu adalah hikmah yang harus diefaluasi untuk perbaikan dan perubahan yang lebih baik, masa kini adalah relitas fakta yang senantiasa menguji kita untuk menjawab secara bijak persoalan - persoalan yang berdatangan, masa depan adalah mimpi yang harus diraih dengan Etape - Etape logis dan tawakal serta kesabaran yang tinggi. Dalam surat Al Ashr: 1-3 Allah bersumpah dengan masa / waktu yang menjadi instrument pokok pencapaian amaliah dan sebuah peradaban, jika manusia mengerti masa peradaban yang sedang dialami maka ia tidak akan merugi, karena ia telah memiliki pertama, kekuatan iman / optimis terhadap masa yang akan dihadapi, kedua memanfaatkan masa / waktu dengan amalan produktif, kerja keras, ketiga selalu berusaha lurus terhadap kebenaran dan keempat memiliki kesabaran tinggi yakni gigih, ulet dan pantang menyerah. Akomoditif Islam Terhadap Peradaban dan Budaya Ajaran Islam yang universal, komprehensif dan fleksible menjadi motiv (alasan) utama membengun dan mengembangkan budaya, namun sifat akomoditif islam tidak begitu saja menerima sebuah kebudayaan, mengingat setiap agama memiliki zona teologis (aqidah) yang tidak bisa dipaksakan secara doktrinal. Dalam ajaran islam "kalimat syahadat" menjadi poros semangat untuk beribadah, area ini tidak bisa di rubah bahkan digeser sedikitpun, begitupun dengan agama / keyakinan lain tidak ada yang berkenen dengan pemaksaan pemahaman. Pluralisme menjadi relitas taqdir dari Tuhan untuk diharapkan mengambil hikmah dan mencari jawaban atas segala keberagaman. Ajaran toleransi merupakan suatu jembatan indah dari dua atau bahkan lebih dari beragam pemahaman, keyakinan, perbedaan pendapat atau idealisme yang dapat berfungsi secara mutual simbiosis (saling bermanfaat) bagi kedua belah pihak. Perbedaan tak semestinya disikapi dengan kekerasan atau kekakuan pemahaman serta doktirn taklid terhadap suatu hal yang dapat memetikan kreatifitas dan potensi umat islam sehingga terpasung dan terkungkung dalam penjara mental pemahaman yang setengah - setengah. Membuka pandangan baru secara wahyuniah yang kemudian dilanjutkan dengan implementasi budaya positif akan terasa kontradiktif dengan lingkungan, namun itu adalah awal baik yang seharusnya dimulai untuk membangun peradaban maju. Karena Allah sangat menganjuran kepada manusia untuk melakukan penguasaan ilmu sebagai kunci kesuksesan menjadi kholifah fil Ardh ​​sebagaimana dalam firmannya surat Al Baqoroh: 31-33 31. dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" 32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana [35]." 33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Pesan Ilahi tersebut di atas memberikan pengajaran kepada kita bahwa kita harus mengusai apapun yang diajarkan kepada kita, sekali lagi penguasaan ilmu pengetahuan adalah merupakan kuci jawaban sebagai kholifah filardh. Sehingga dapat meyakinkan kepada siapa saja bahwa umat islam memiliki kepampuan dan potensi untuk turut serta membangun dan mengelola bumi ini. Kemudian terlihat pula dari ayat pertama yang turun kepada Rosulullah SAW yakni surat Al Alaq 1-5, ayat tersebut menyentuh masalah yang paling essensial dari potensi manusia, yaitu akal dan bathin (fikir dan dzikir), juga disebutkan perangkatnya yakni iqra '(baca, riset , teliti), allama (mengajarkan / tranfer ilmu) dan qalam (alat tulis / alat penyimpan data / memori). Sikap Umat Islam Terhadap Kemaujan Peradaban Umat islam yang benar - benar mengamalkan ajarannya akan sangat inklusif terhadap kemajuan peradaban, disamping itu juga dengan ajaran tasamuh (toleransi) akan mudah bergaul dan bekerjasama dengan semua komponen bangsa yang sehati dan mementingkan kerukunan dan kemajuan bersama. Dengan adanya kemaujuan peradaban yang ditandai dengan derasnya penguasaan sains dan teknologi maka secara garis besar sikap umat islam akan terbagi tiga kelompok: 1. Sikap Distopistik, yakni orang yang lari dari kenyataan, apatis, pesimis menghadapi tantangan zaman, sangat eksklusif terhadap kemajuan bahkan cenderung mengaharamkan iptek. 2. Sikap Utopistik, yakni orang yang memiliki optimisme yang berlebihan, namun memandang persoalan secara parsial, ia berkeyakinan hanya dengan kemoderenan yang bisa menyelesaikan masalah, namun sikapnya cenderung sekuler. 3.Sikap Moderat, yakni orang yang mampu melihat persoalan secara utuh dan komprehensip, sikapnya sangat terbuka terhadap kemajuan iptek (modernitas) tetapi tetap mematuhi nilai - nilai Ilahiah (ketauhidan) Beberapa sikap di atas akan memberikan wacana kepada kita, sejauh mana peranan kita menyikapi sebuah kemajuan peradaban, sudahkan kita memulainya atau bahkan kita akan mengharamkannya dengan adanya kekakuan pemahaman atau kita telah mendewakan teknologi sampai lupa terhadap nilai - nilai ketuhanan. Maka dari itu jika kita masih menonton maka bersegeralah memulai kontra budaya positif yang akan segera mengangkat harkat umat islam dan memang telah menjadi ajaran dan ajakan dari Allah SWT untuk mnguasainya segala disiplin ilmu, sebagaimana diajarkan kepada nabi Adam sebagai kunci kesuksesan khalifah fil ardh. Allah juga telah memberikan pengajaran bahwa setiap urusan kebaikan akan ada pro dan kontra (suka dan benci), orang yang kontradiksi terhadap kita hanyalah orang - orang yang belum nyambung, ada yang terputus dari pemahaman tentang urusan baik yang kita lakukan. Sebagaimana dalam firmanNya:                              Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Al Kautsar: 3)dalam mengawali sesuatu bersegeralah memiliki artikel - artikel positif yang berani mengubah diri kita lebih baik, kemudian mengamalkannya dan mensikapi secara progersif dan kreatif sehingga akan lebih nyaman dan menemukan ketenangan serta kepuasan bathin dalam beribadah kepada Allah. Meskipun sikap baik itu terasa kontradiktif terhadap lingkungan sekitar, yang terpenting kita tidak keluar dan diluar dari pada kepentingan agama Allah, agama islam dan ridho Allah SWT. (Rovich Abidin) 

Selasa, 21 Februari 2012

Visi


MUKMIN VISIONER
Oleh : Rofiq Abidin
 Sebuah pencapaian besar bermula dari mimpi-mimpi besar, selanjutnya diaktualisasikan  dengan semangat besar dan kerja keras. Tak terkecuali mukmin, pun berangkat dari sebuah visi yang ditanam sejak dini. Sosok nabi visioner yang menjadi panutan segenap manusia adalah Ibrahim AS dan Muhammad SAW, beliau-beliau ini telah menginterprestasikan risalah Allah dengan visi besar, sehingga Peradaban Islam dibangun dari generasi ke generasi. Beliau bersama sahabat setianya memulai dengan membangun sesuatu yang fundamental yakni aqidah, selanjutnya diikuti dengan pembangunan lahiriah, yakni wadah untuk menyatukan kekuatan, ialah masjid sebagai pusat pendidikan dan penggemblengan aqidah.
            Akhir-akhir ini berkembang pelatihan-pelatihan dan simposium yang didalamnya mengambil nilai-nilai Islam sebagai materinya. Ini merupakan dakwah modern yang mengikuti perkembangan zaman, namun sayang jika ada di antara pemateri ini yang kurang begitu memahami maknawiah sesungguhnya dan hanya dikorelasikan dengan bisnis, sehingga spirit dakwah dan ritualnya kurang menyentuh pesertanya. Seorang mukmin visioner akan memiliki naluri dakwah yang tinggi, karena kecintaannya kepada Islam. Jika boleh mengamati, mukmin visioner dari mulai para nabi hingga masa kini biasanya memiliki beberapa sifat dan sikap berikut ini :
1.      Islam minded, kecintaannya kepada Islam tak bisa ditawar, baginya Islam adalah harga mati. Sikap dan idenya selalu merujuk kepada Al-qur’an dan Al Hadits. Semua pemikiran dan sikapnya selalu dikembalikan kepada nilai-nilai Ilahiyah. Ia benar-benar tegas menolak sesuatu yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam.
2.      Empati sosial, ia bukan bisnisman yang memikirkan diri sendiri, tapi ia selalu peduli demi kemajuan Ummat dan Dinul Islam. Ia tak pernah merasa lelah untuk urusan kemanusiaan, membangun Ukhwah Islamiah, lebih-lebih lagi untuk kemajuan Peradaban Islam.
3.      Militansi aqidah, keyakinannya yang mendalam menjadikan seorang mukmin visioner memiliki militansi yang tinggi, ia siap apa saja demi mentegakkan Nilai-Nilai Islamiyah.
4.      Naluri dakwah yang tinggi, dimana saja, kapan saja, berperan sebagai apa saja ia tampak tegak dengan komitmen besar terhadap syari’ah. Ide yang ia gagas tentang  Visi Islam akan terus diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, baik dimulai dari diri, keluarga, lingkungan dan bangsanya.
Sebuah visi kemajuan yang diusung oleh para nabi dan para rasul, kemajuan berfikir, kemajuan berusaha dan kemajuan dalam segala bidang. Seorang mukmin visioner selalu open minded, namun tetap berpegang teguh kepada Ajaran Ilahi. Karena pandangannya yang jauh ke depan menjadikannya selalu menjadi pelopor menuju perubahan nyata. Mari kita teladani bagaimana Nabi Ibrahim mendongkrak paganisme Namruj yang begitu kokoh dan Nabi Muhammad yang dengan sabar membangun kekuatan di Madinah Al Munawarah, hingga kita menemukan zaman keemasan pada masa-masa Dinasti Abbasiyah, dimana muncul ilmuwan-ilmuwan muslim terkemuka yang menjadi dasar perubahan-perubahan modern pada saat ini. Namun bagaimana dengan sekarang?, mukmin visionerlah yang akan menjawabnya. Semoga saja kita Umat Islam dapat kembali bangkit, membangun Peradaban Islami yang penuh damai, adil dan sejahtera, dimulai dari diri kita.

Khusuk


Hanya Aku dan DIA
 Oleh : Rofiq Abidin
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa
(mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya
seorang pemimpinpun.” (QS. Az Zumar : 23)

Allah saja yang tidak akan pernah mengecewakan kita, kita sesama manusia tidak
akan bisa memuaskan semua keinginan manusia, karena manusia punya hawahu
(hawa nafsu), baik yang muncul dalam bentuk nafs amarah maupun nafs-nafs buruk
lainnya. Tata tertib hidup yang dibuat oleh Allah dalam firman-Nyalah yang akan
menunjuki dua jalan, yakni jalan yang benar dan jalan yang salah beserta dengan
resikonya, tergantung pilihan hidup kita. Inilah pengendali hawahu itu, jadi datanglah
kepada Allah dengan penuh ketundukan, niscaya akan menemukan ketenangan
dan ketentraman. Kita pasti pernah kecewa dengan seseorang, dengan keadaan
atau bahkan dengan diri kita sendiri, namun Allah tidak pernah meninggalkan kita.
Banyak ayat-ayat yang diperlihatkan kepada kita, yang diperdengarkan kepada kita,
baik ayat-ayat yang ada dalam Al Kitab, maupun tanda-tanda kekuasaan di alam
raya ini. Kerinduan untuk terus mendekat kapada Allah terkadang hanya muncul
saat kita sedih, saat kita sedang dalam tekanan, ketika dalam masalah, namun saat
dalam kelimpahan kita lupa dan mungkin kadang-kadang kita pura-pura lupa. Entah
mungkin kita terlalu asyik dengan urusan dunia, sehingga PetunjukNya pun kita
tinggalkan dan hanya menjadi bacaan semata. Begitukah seharusnya, bukankah
Allah menurunkannya untuk dijadikan pedoman disetiap sudut masalah kita?.

Hanya dengan mengingat-Nya
Saat kita mendapati diri kita pasrah, saat itu kita merasakan hanya Dia harapan
terakhir. Padahal Allah sudah mengulurkan tangan-Nya untuk kita sejak awal,
namun kita tidak mau datang kepada-Nya. Ya, lagi-lagi keasyikan dunia yang
menutupi semua, seolah-olah kita bisa menangani semua tanpa-Nya. Sadarlah
bahwa dengan datang kepada-Nya, baik melalui shalat, melalui do’a atau melalui
firman-Nya kita akan merasa tenang, tentram dan nyaman. Sebagaimana Allah
berfirman :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram.” (QS. Ar Ra’d : 28)

Pesan Ilahi tersebut di atas menerangkan bahwa orang- orang beriman yang telah
sadar/ taubat akan menemukan sebuah ketentraman saat mengingat Allah. Dzikir
yang khusuk, sholat yang khusuk, zakat yang khusuk (tanpa riya’) akan terasa
memuaskan hati dan menyamankan jiwa, itu semua karena Allah, kita tulus ikhlas
melakukannya hanya untuk-Nya. Bukankah kita selalu berkomitmen saat kita
sedang sholat bahwa “sholatku, pengorbananku, hidup dan matiku “lillahirobbil’
alamin” (untuk Rabb/ Pengatur Alam yakni Allah SWT). Komitmen kita itupun
diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya :

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am : 162)

Saat kita mengucapkannya dengan khusuk “hanya aku dan Dia”, maka kontak
langsung dengan-Nya akan menghadirkan ketenangan, ketundukan dan kecintaan
kita seluruhnya untuk sang Khalik. Hanya dengan mengingat Allah, jiwa kita akan
kembali bersih dan kembali lurus sehingga ketentraman yang tiada tara bisa kita
rasakan. Namun beda manakala kita melakukan shalat tapi tidak khusuk, kadang
ingat Allah, kadang pikiran melayang kemana-mana, yang ada justru kita ingat kita
meletakkan kunci kendaraan di mana, menyimpan uang di mana dan lain- lain. Usia
kita semakin bertambah, marilah kita niatkan untuk mengingat-Nya dengan khusuk,
bukan untuk mendapat ketenangan, namun lebih kearah pengabdian/ persembahan
yang benar dan ikhlas, karena ketenangan otomatis akan kita dapatkan manakala
kita khusuk dan sungguh-sungguh dalam mengibadati-Nya.

Hanya Aku dan Dia
Romantisme kita dalam mengibadati Allah memiliki cerita masing-masing, seiring
dengan fluktuasi iman kita. Suatu saat kita merasa butuh untuk dekat kepada-
Nya, suatu saat kita membenarkan sikap dengan mengabaikan pengawasan-Nya.
Allahpun dekat jika kita mau dekat, bahkan Allah lebih mendekat, namun jika kita
meninggalkan-Nya, Allahpun tetap mengawasi kita, menilai kita, menghitung semua
sikap kita dengan detail, kemudian memberi balasan sesuai apa yang kita lakukan,
tak ada yang salah dengan perhitungan-Nya. Sebuah romantisme yang indah
manakala seorang manusia mencintai dan dicintai Allah. Muhammad SAW adalah
sosok kekasih Allah yang membuktikannya. Keluhuran akhlak Rasulullah SAW
dan amanah beliau dalam menjalankan misi kenabiannya serta prestasi ibadahnya
menjadikannya manusia tersukses yang meraih cinta Allah SWT. Keteladanan
beliau menjadikan semua ingin sepertinya, namun tak mudah meniru perilaku luhur
beliau, prestasi ibadah beliau dan rasa cinta beliau kepada Allah. Kunci dari semua
adalah pandai-pandailah memupuk iman, ikuti kata iman kita, karena di dalam iman
kita ada irodah-Nya yang akan selalu mengingatkan saat kita mulai keluar dari jalur
yang benar, menuntun kita pada kebahagiaan. Kita mulai instrospeksi dari sholat
kita, berapa kali kita sholat khusuk, padahal jatah usia kita semakin berkurang.

“(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatNya.” (QS. Al Mukminuun : 2)

Mukmin yang beruntung ialah mukmin yang khusuk dalam sholatnya, itu janji
Allah dalam Al Qur’an. Jadi iman kita menjadi syarat utama kita untuk khusuk, dan
khusuk akan datang manakala kesungguhan kita untuk khusuk itu ada, pun juga
penghayatan dalam sholat, tanpa kesungguhan niat dan penghayatan tidak mungkin
kita mendapatkan khusuk. Selanjutnya khusuk inilah yang akan menenteramkan
bathin kita, merefresh jiwa kita sehingga kita akan senantiasa siap menghadapi
tantangan ke depan. Semoga saja romantisme ibadah saya dengan Allah SWT
dan kita semua dengan Allah terus mengalami peningkatan, demikian juga dengan
prestasi amal kita, seiring jatah usia kita yang makin berkurang hingga kelak kita
kembali kepada-Nya dengan ridho-Nya.

Dakwah


Meng-install Komitmen Dakwah Kita
Oleh : Rofiq Abidin
Kian hari kita rasakan dekadensi moral semakin menjadi- jadi. Pergaulan menjadi jendela  efektif  yang mempengaruhi pola pikir, sikap dan keputusan seseorang memilih jalan. Tidak sedikit orang tua yang prihatin terhadap pergaulan anaknya, sehingga mengambil tindakan preventif dan protektif agar anaknya tidak terjerumus kedalam pergaulan yang salah. Adapun yang duduk di pemerintahan senyatanya terus menerus menuai kasus korupsi yang notabene mereka kebanyakan muslim. Berbagai iklan di berbagai media telah banyak menyindir sikap pemerintah yang korup, namun sepertinya tidak mempan, masihkah berfungsi nuraninya? Melihat kenyataan ini, sebagai muslim tentunya terketuk hati kita, karena dakwah merupakan komitmen yang perlu kita install kembali. Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya :
“Dan hendaklah ada di antara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang – orang yang beruntung”. (Ali Imran : 104)
Melalui ayat ini, Allah menyeru kepada setiap kita untuk melakukan dakwah sesuai dengan kemampuan dan bidang keahliannya, apapun profesi dan posisi jabatannya serta di manapun ia berada. Dalam sebuah hadispun Rasulullah SAW memberikan gambaran betapa dakwah merupakan kewajiban kita, baik yang memiliki kekuasaan ataupun tidak. Cakupan dakwah tidak terbatas dalam bentuk ceramah atau pengajian semata, namun dakwah harus menyentuh sektor kehidupan yang nyata, sehingga maknanya semakin terasa dan memberikan solusi dalam kelangsungan hidup bersama. Sekarang, yang kita perlukan adalah kembali menguatkan komitmen da’wah kita (re-installing), agar da’wah tidak menghambar dan sering ‘hang’ digerogoti virus-virus. Mari kita meng-install ulang komitmen dakwah kita dengan beberapa hal berikut ini :
Pertama, pahami bahwa da’wah itu fardhu, yang mengakibatkan konsekuensi dosa bagi orang yang tidak melakukannya. Kita tidak perlu lagi memperdebatkan ini fardu ain atau fardu kifayah, karena dalam kenyataannya ummat ini masih butuh sentuhan dakwah, mulai anak-anak, remaja bahkan dewasa.
Kedua, bersihkan memori kita dari pikiran yang kotor,  nafsu kebebasan, dan paham yang menyesatkan. Ketika Anda menginstal computer, semua virus dan file aktif yang mencurigakan harus dibersihkan dulu, kalau tidak ingin instalasi Anda gagal karena software Anda kalah oleh virus itu. 
Ketiga, tanamkan niat dan tujuan yang benar, ikhlas semata mengharap ridha Allah. Niat akan mempengaruhi perolehan kita. Ketika kita berda’wah dengan niat karena Allah, niscaya Allah memberi bimbingan sesuai yang dikehendaki-Nya.
Keempat, Lakukan dakwah dengan proporsional dan sabar, tiga pendekatan dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW, yakni tangan, lisan dan hati mestilah dilakukan sesuai kondisi dan posisi kita. Dari pendekatan kekuasaan, kita lakukan dengan membuat aturan-aturan yang islami dan tidak memihak kemungkaran. Pendekatan lisan, ucapkan yang benar walaupun pahit, nasehatkan dalam setiap celah kesempatan, baik melalui pertemuan maupun person to person. Selanjutnya pendekatan hati, yakni heart to heart, pendekatan yang terus dilakukan kepada orang yang sulit sekalipun, bicara dengan hati ke hati, diiringi dengan penegasan tauladan dan do’a. Semoga komitmen dakwah kita terus terjaga demi kelangsungan kehidupan kita selanjutnya. 

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © RAHMATAN LIL ALAMIN 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Templateism