Ad (728x90)

Senin, 27 Agustus 2012

Mind set



MUKMIN VISIONER
Oleh : Rofiq Abidin

Sebuah pencapaian besar bermula dari mimpi-mimpi besar, selanjutnya diaktualisasikan  dengan semangat besar dan kerja keras. Tak terkecuali mukmin, pun berangkat dari sebuah visi yang ditanam sejak dini. Sosok nabi visioner yang menjadi panutan segenap manusia adalah Ibrahim AS dan Muhammad SAW, beliau-beliau ini telah menginterprestasikan risalah Allah dengan visi besar, sehingga Peradaban Islam dibangun dari generasi ke generasi. Beliau bersama sahabat setianya memulai dengan membangun sesuatu yang fundamental yakni aqidah, selanjutnya diikuti dengan pembangunan lahiriah, yakni wadah untuk menyatukan kekuatan, ialah masjid sebagai pusat pendidikan dan penggemblengan aqidah.
            Akhir-akhir ini berkembang pelatihan-pelatihan dan simposium yang didalamnya mengambil nilai-nilai Islam sebagai materinya. Ini merupakan dakwah modern yang mengikuti perkembangan zaman, namun sayang jika ada di antara pemateri ini yang kurang begitu memahami maknawiah sesungguhnya dan hanya dikorelasikan dengan bisnis, sehingga spirit dakwah dan ritualnya kurang menyentuh pesertanya. Seorang mukmin visioner akan memiliki naluri dakwah yang tinggi, karena kecintaannya kepada Islam. Jika boleh mengamati, mukmin visioner dari mulai para nabi hingga masa kini biasanya memiliki beberapa sifat dan sikap berikut ini :
1.      Islam minded, kecintaannya kepada Islam tak bisa ditawar, baginya Islam adalah harga mati. Sikap dan idenya selalu merujuk kepada Al-qur’an dan Al Hadits. Semua pemikiran dan sikapnya selalu dikembalikan kepada nilai-nilai Ilahiyah. Ia benar-benar tegas menolak sesuatu yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam.
2.      Empati sosial, ia bukan bisnisman yang memikirkan diri sendiri, tapi ia selalu peduli demi kemajuan Ummat dan Dinul Islam. Ia tak pernah merasa lelah untuk urusan kemanusiaan, membangun Ukhwah Islamiah, lebih-lebih lagi untuk kemajuan Peradaban Islam.
3.      Militansi aqidah, keyakinannya yang mendalam menjadikan seorang mukmin visioner memiliki militansi yang tinggi, ia siap apa saja demi mentegakkan Nilai-Nilai Islamiyah.
4.      Naluri dakwah yang tinggi, dimana saja, kapan saja, berperan sebagai apa saja ia tampak tegak dengan komitmen besar terhadap syari’ah. Ide yang ia gagas tentang  Visi Islam akan terus diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, baik dimulai dari diri, keluarga, lingkungan dan bangsanya.
Sebuah visi kemajuan yang diusung oleh para nabi dan para rasul, kemajuan berfikir, kemajuan berusaha dan kemajuan dalam segala bidang. Seorang mukmin visioner selalu open minded, namun tetap berpegang teguh kepada Ajaran Ilahi. Karena pandangannya yang jauh ke depan menjadikannya selalu menjadi pelopor menuju perubahan nyata. Mari kita teladani bagaimana Nabi Ibrahim mendongkrak paganisme Namruj yang begitu kokoh dan Nabi Muhammad yang dengan sabar membangun kekuatan di Madinah Al Munawarah, hingga kita menemukan zaman keemasan pada masa-masa Dinasti Abbasiyah, dimana muncul ilmuwan-ilmuwan muslim terkemuka yang menjadi dasar perubahan-perubahan modern pada saat ini. Namun bagaimana dengan sekarang?, mukmin visionerlah yang akan menjawabnya. Semoga saja kita Umat Islam dapat kembali bangkit, membangun Peradaban Islami yang penuh damai, adil dan sejahtera, dimulai dari diri kita.
Ide Segar

SEMUA BERAWAL DARI NIAT
Oleh : Rofiq Abidin

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (QS. Asy Syuura :20).

Dalam setiap pekerjaan kita, ada sebuah kehendak hati yang menggerakkan langkah kita, ialah niat. Semua yang kita lakukan menyimpan kepentingan-kepentingan, bisa jadi kepentingan itu manfaat maupun mudharat atau bahkan kepentingan itu kosong hanya sebatas kepuasan. Niat merupakan ruh dalam amal, niatlah yang akan menjaga semangat kita dan memotivasi kita. Jika kita mulai lemah dan lesu dalam mencapai sesuatu, kembalilah kepada niat baik anda, karena niat menyimpan tujuan, kepentingan dan obsesi anda. Niat akan meminyaki api semangat anda, karena getaran niat ini akan benar-benar menggetarkan emosi anda jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh khusuk. Niat dapat mengembalikan kita untuk kembali, kembali kepada jalan kebenaran, yakni jalan Allah, jika kita mulai berbelok arah, niatkan kembali karena Allah. Boleh jadi kita melakukan sesuatu tapi tidak sesuai dengan niat kita, kita meninggalkan niat yang pernah kita ikrarkan dalam hati, yang selanjutnya kita komitmenkan dengan lisan, karena ada yang melenakan, memalingkan arah tujuan semula. Islam sangat memperhatikan tentang urusan niat ini, karena dalam setiap amal dan peribadatan sangat ditentukan oleh niat. Rasulullah menegaskan dalam buah tuturnya (Al Hadits) :
Daripada ‘Umar bin al-Khaththab RA, dia berkata, Rasulullah (selawat dan salam ke atas baginda) bersabda: “Sesungguhnya amal itu tidak lain hanyalah dengan niat dan sesungguhnya bagi setiap orang hanyalah apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah untuk dunia yang dia inginkan atau kerana seorang wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia berhijrah kerananya.

Niat dan Hijrah
Buah tutur Rasulullah SAW yang tertulis di atas ada dalam kitab Riadus Shalikhin pada halaman pertama, perihal ini menjadikan saya tertarik untuk membaca berulang ulang, karena selama ini rata-rata kita hanya mendapat penggalan hadistnya saja yakni “insnamal a’malu bin niat” (sesungguhnya setiap amal tergantung/dengan niatnya). Namun ternyata sebuah perintah hijrahpun disertakan dalam hadist ini oleh Rasulullah SAW, bermakna adanya makna historis antara niat dengan hijrah. HIjrah merupakan salah satu amal yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW dan ummatnya untuk membangun diri (nafs), tempat peradaban dan aplikasi aturan-aturan Ilahiyah, sehingga wujudlah Madinah (sebuah tempat peradaban yang didalamnya diberlakukan aturan Allah oleh manusia). Apa kaitan niat dengan hijrah?. Secara historis pada masa itu hijrah menetukan kelanjutan iman seorang muslim. Jadi jika niat berhijrah mestilah karena Allah dan Rasulnya, bukan untuk mendapatkan harta, wanita atau bahkan kelimpahan saat mencapai kemenangan. Semua kelimpahan pada masa yang akan datang adalah efek dari niat tulus kita untuk berhijrah, mengubah diri menjadi lebih baik, lebih soleh, lebih sukses dan kemakmuran lainnya.

Semua Berawal dari Niat, Niatpun Tak Hanya di Awal Saja
Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkan. (HR. Bukhori)
Pernahkah anda mendengar celoteh “kamu ini gak niat”, itu adalah ungkapan kejengkelan seseorang saat melihat bawahan, teman atau rekan yang kurang tampak niat mengerjakan sesuatu, berarti ia sedang mengerjakan suatu pekerjaan, bukan sebelum mengerjakan. Niat memang akan tampak sungguh-sungguh atau tidak, saat seseorang sedang melakukan pekerjaannya. Contoh gampangnya saja, saat kita sholat, saat niat awal yang diikuti takbirotul ikrom kita khusuk, namun boleh jadi setalah selesai niat, pikiran kita glambyar kemana-mana, itu karena niat kita hanya diawal saja, maka kembalilah kepada niat semua, jagalah jangan kita taruh, sehingga kekhusukan akan begitu terasa. Niat itu adalah sebuah esensi penting yang harus kita bawa kemana-mana untuk mencapai tujuan akhir, niat juga sebuah visi yang akan membawa kita kemana kita melangkah, walaupun terkadang kita melupakannya karena menemukan sesuatu yang baru. Jadi awali semua dengan niat, kemudian jagalah, agar melakukan sesuatu itu penuh khusuk (dalam urusan ritual) dan penuh serius dalam urusan mu’amalah sehingga memperoleh khusnul khotimah (akhir yang baik/sukses).

Managemen Niat
Niat baik akan membawa kepada kemanfaatan, niat jahat akan dapat menyeret kepada kemudharatan. Semua akan membawa efek masing-masing, maka ketulusan niat baik sangat berdampak kepada istiqomahnya amalan kita. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah managemen niat, ini bukan bermakna monopoli niat, tapi lebih kearah esensinya, agar menemukan keistiqomahan keridhoan Allah. Karena Allah maha tahu setiap gerakan kita, pun juga gerik hati kita, sedang berubah-ubah, istoqomah atau condong kepada keburukan. Allah sangat tahu apakah kita tulus atau bercampur dengan riya’, maka krentek hati kita akan menjadi pemicu gerak dan langkah kita, boleh jadi niat kita ingin mengubah, namun justru malah terpengaruh dengan fakta yang cenderung mundur, itu karena managemen niat kita yang lemah. Mari kita renungi peringatan Allah berikut ini :
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari negerinya (untuk berjihad di jalan Allah) dengan berlagak sombong dan menunjuk-nunjuk (riya’) kepada orang ramai. [al-Anfal 8:47]
Setiap manusia yang sedang berniat baik, iblis tidak pernah terima, berbagai cara ia lakukan untuk mengurungkan niat kita. Perangkap yang bernama riya’ disiapkan untuk merusak niat baik kita, maka waspadalah. Setiap kebaikan murni akan terasa baik pula oleh nurani kita dan nurani manusia yang melihatnya, apalagi Allah yang maha tahu. Maka untuk memanagemen niat perlu kita lakukan agar tidak menemukan kesia-siaan. Ada tiga hal yang dapat merusak niat :
1.       Riya’, sebuah sifat perusak niat baik, yang menyimpan kepentingan “agar kita dinilai baik, hebat dan kuat. Ini bisa dirasakan atau bahkan kita tutupi dengan pembenaran-pembenaran sikap kita.
2.       Takabur, sebuah sikap yang menjadikan kita lupa diri dan lupa dengan niat baik semula, niat kita akan berantakan manakala dihinggapi oleh sikap sombong, karena takabur akan melenakan kita, karena selalu merasa besar dan tidak rendah hati, sehingga bisa jadi menutup rapat-rapat niat baik yang sudah kita susun rapi.
3.       Putus asa, tak ada harapan lagi, ini yang dirasakan saat kita putus asa, ikhtiar kita serasa mentok, tak ada lagi peluang. Sehingga niat awal kita menjadi seolah tak terkejar.
Jauhilah tiga sikap tersebut di atas, jika anda ingin niat anda terjaga sampai pada proes pencapaiannya dan mendapatkan ridho Allah SWT.
Adapun penyembuhnya juga ada 3 yakni :
1.       Ikhlash, kunci diterimanya sebuah amal adalah ikhlash, niatkan semua amal kita dengan ikhlash pasti tidak akan sia-sia. Hanya dengan mengikhlaskan niat dan menjalankan niat dengan ikhlash kita akan menjadi lapang saat niat kita belum tercapai dan akan segar kembali manakala menemukan kebuntuan. Karena demikian pula perintah Allah dalam menjalankan ibadah, sebagaimana firmanNya :
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS Bayyinah :  5)
2.       Sungguh-sungguh, niat yang sungguh sungguh, bermakna actioannya juga sungguh-sungguh. Kalau hanya di awal saja, akan membawa kesia-siaan tenaga dan waktu kita. Maka marilah kita jaga kesungguhan niat kita, niscahya akan bereffek kapada kekhusukan/konsentrasi ibadah kita, baik dalam konsep ritual maupun actual.
3.       Sabar, banyak yang beranggapan bahwa sabar iru bersifat defensif (bertahan), padahal nilai sabar itu adalah bergerak menjunjung niat baik yang telah kita tanam. Namun dalam situasi tertentu sabar dalam interprestasi bertahan sangat perlu, sekedar untuk refresh agar kita tidak mundur dan stress. Ya dengan sabar stress akan pergi dengan sabar kita akan dapat menjaga niat kita. Sabarlah saat mengamalkan niat kita niscahya akan menemukan pencapaian maksimal. Kalaupun niat baik anda yang ikhlash ternyata dipersepsikan buruk oleh orang lain, maka itu adalah ujian, karena ketidaknyambungan misi dan niat yang kita bawa. Sebagaimana surat Al Kautsar : 3, “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.
Managemen niat, bermakna managemen perasaan, agar kita tidak mudah putus asa dengan niat. Jagalah niat kita dengan ikhlahs dan sungguh-sungguh mengamalkannya, niscahya akan menemukan ketenangan dan kekhusukan dalam menjalankan perintah Allah serta meraih ridhoNya.
Asbabun nuzul

Senin, 12 Maret 2012


BELAJAR TEGAR

Orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS. Ali Imran : 16-17)
Tak ada orang yang tidak pernah mendera cobaan, setiap kita pasti mengalami ujian berat, pernah merasa letih dan lelah dengan sederet masalah seiring dengan kualitas iman kita dan kuantitas ilmu kita. Masalah datang tak mengenal apakah kita sedang  sempit atau sedang lapang, sedang siap atau sedang pesimis, dia datang sebagai ujian atau teguran, itu kembali kepada pengertian spiritual kita, mampukah kita mentadaburinya dengan hati yang bersih, mampukah kita melawan amarah kita dengan mengedepankan hikmah. Kita tetap belajar sabar meski berat, kita bersyukur meski sempit, kita belajar ikhlas meski tak rela, kita belajar memahami meski tak sehati, kita belajar mengalah dengan keegoisan dan kita tetap berdo’a kepada-Nya meski Allah belum mengabulkan doa kita. Semua yang telah terjadi adalah pembelajaran, kini kita sedang belajar untuk terus menyempurnakan ikhtiar demi esok yang kita harapkan. Tuhan tak pernah salah membalas setiap perbuatan kita, apakah itu salah atau benar. Tuhan maha teliti, kalau kita sudah berada pada jalur yang benar dan menikmati iman kita, maka tetap teguhlah walau do’a kita belum mendapat respon dari Tuhan, boleh jadi Allah sedang mempersiapkan hadiah besar terhadap kesabaran kita. Seorang yang tetap tegar dengan beragam cobaan yang datang tergambar dari ayat di atas :
1.    Tetap dalam keimanan
Ujian yang datang kepada seorang mukmin akan menyesuaikan kelasnya, makin berkelas imannya maka makin besar pula ujiannya. Namun Allahpun mengukur dengan cermat kemampuan hamba-Nya, Dia menyediakan jawaban terhadap segala persoalan hamba-Nya, tinggal seberapa besar ikhtiarnya. Cobaan bukan makin menyurutkan imannya, namun makin memperteguh cintanya kepada Sang Rabb. Coba cermati pernahkah Anda menerima sebuah perlakuan jahat, entah itu fitnah, ghibah atau apa saja yang menguji, apakah kita balas pula dengan kejahatan?, jika kita benar-benar beriman, maka biarkan saja, Allah maha melihat, Dia yang akan menghitungnya dan memberikan balasannya. Teguhkan saja iman kita dan tegarlah dengan semua yang terjadi, yakinlah semua akan baik-baik saja, selama kita tetap dalam keimanan.

2.    Tetap dalam kesabaran
Kesabaran merupakan senjata ampuh untuk melawan apapun ujian hidup. Kesabaran juga merupakan proses yang terus bergerak dan ketidakputusasaan menggapai asa. Ada sebuah tangga ujian dalam mencapai apapun tujuan kita, hanya dengan kesabaran kita akan melewatinya dengan mulus, karena hakekat sabar adalah sikap gigih, ulet dan pantang menyerah. Jika kita sabar, maka kita pasti akan tetap tegar menatap apa saja hidup ini. Tidak ada kata putus asa bagi orang-orang beriman. Berikut ini pandangan Allah tentang sosok orang yang sabar :
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran : 146)

3.    Tetap dalam ketaatan
Walau godaan hidup makin indah, namun jiwa mukmin tetap taat pada standart wahyu. Ia tetap dalam ketegaran mengamalkan nilai-nilai Ilahiyah, walau terkadang ia harus menerima pil pahit berupa “pengucilan pergaulan”, penilaian oposisi, atau bahkan keanehan dalam memegang prinsip. Tapi ia tetap tegar dengan ketaatannya kepada nilai-nilai Islamiah, karena kenyamanan hidupnya ialah manakala ia tetap teguh dengan prinsipnya. Jadi kita taati saja perintah-Nya, semua akan menjadi pelajaran hidup yang berharga dan Allah akan makin sayang kepada hamba-Nya yang tetap istiqomah menjalani hidup berdasarkan wahyu-Nya.

4.    Tetap dalam kebenaran
Bagi seorang mukmin, kebenaran sumbernya dari Allah. Maka idealisme dan pola pikirnya tidak akan keluar dari kebenaran wahyu Allah. Mempertahankan sebuah “nilai benar” memerlukan ketegaran, karena cobaan akan terus berdatangan untuk membuktikan keabsahan dari nilai kebenaran itu sendiri. Jadi pilihan benar gandeng dengan resikonya, terima saja senyatanya kita menerima hidup ini yang memang banyak keanekaragaman, namun tetap bertoleransi dan menghormati semua perbedaan.

5.    Tetap dalam pengorbanan/ menafkahkan harta pada jalan Allah
Sudah lazim dalam perjuangan ada pengorbanan, berkorban untuk jalan Allah tidak menjadikan kita miskin, bershodaqoh justru menjadikan kita berkah. Yakinlah bahwa di semua harta kita ada haknya orang-orang miskin dan anak yatim. Cobaan datang bertubi- tubi untuk menguji sejauh mana kecintaan kita kepada Allah, masihkah mau peduli, memberi dan berempati terhadap kepentingan jalan Allah, baik itu ketimpangan sosial, kepentingan dakwah atau kepentingan untuk orang banyak. Menikmati harta tidak selamanya memanjakan diri dengan membeli barang-barang mewah, tapi jiwa akan merasa nikmat manakala kita bisa membahagiakan orang lain.
6.    Tetap mengevalusi diri dan tawakal
Memohon ampun kepada Allah, semestinya sudah menyadari sebuah kesalahan/ dosa. Penyadaran kesalahan/ dosa pastilah telah dievalusi benar salahnya berdasarkan nurani dan wahyu Ilahi. Maka dari itu sebelum kita mengucapkan istighfar, marilah kita sadari dan evaluasi sikap- sikap kita sebelumnya agar menemukan makna istighfar sesungguhnya. Tawakal bukan bermakna pasrah diam tak bergerak, namun hatinya tetap menyerahkan semua kepada keputusan Allah, lisannya terus menyebut-Nya dan langkahnya tetap tegar berikhtiar mencari solusi terbaik. Jika Allah belum mengabulkan do’a kita, itu adalah yang terbaik, jika Allah segera mengabulkan do’a kita itupun juga yang terbaik, karena Allah punya rahasia dibalik qodar (ketetapan)-Nya.
Semoga saja kita tetap belajar tegar, untuk memahami makna hidup dan kehidupan dan semoga saja kita tetap yakin bahwa Allah paling tahu apa dan bagaimana kebutuhan kita, sehingga Dia memberikan yang terbaik untuk kita. Berikut ini janji Allah kepada hamba-Nya yang bertawakal kepada-Nya :
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki-)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath Thalaaq : ).
Mari tetap dalam keimanan, dalam kesabaran, dalam ketaatan, dalam kebenaran, dalam pengorbanan dan mengevaluasi diri serta bertawakal meraih takdir terbaik dari Allah SWT.

Positif thinking



JUJUR ITU BAIK
 Seseorang pernah bertanya kepada saya tentang aplikasi kejujuran di era sekarang, belum saya menjawabnya iapun mengeluhkan sebuah opini publik bahwa “hidup di zaman sekarang jangan jujur-jujur banget, bisa-bisa gak makan”, ungkap kesalnya. Praktek ketidakjujuran sudah lazim berlaku di lingkungan bangsa ini, justru terkesan aneh manakala jujur. Entah ini pendapat saya atau kenyataan?, yang pasti ada orang-yang nyata-nyata mengaku kepada saya bahwa ketidakjujuran itu dilindungi dan mendapat dukungan. Rasulullah SAW menganjurkan kita selalu jujur, karena jujur membawa kepada kebaikan, sebagaimana sabda beliau berikut ini :

Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Jujur bermakna keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Komitmen untuk jujur akan mendapati ujian dan perlawanan, yakni perlawanan bathin untuk dusta. Pada dasarnya dusta adalah mengesampingkan nurani, karena setiap  dusta yang kita lakukan pasti tidak sesuai dengan nurani kita, tidak nyaman, entah kita sadarnya cepat atau dalam jangka waktu yang agak lama, yang pasti ada yang ganjil manakala kita dusta. Keyakinan bahwa jujur membawa kebaikan yang disampaikan Rasulullah SAW berlawanan dengan opini publik yang saya sebutkan di atas yakni “hidup di zaman sekarang jangan jujur-jujur banget, bisa-bisa gak makan”. Sebagai mukmin, apakah kita akan mengikuti anjuran Rasulullah ataukah opini yang sudah menjadi rahasia umum?, itu tergantung iman kita. Bisa saja kita mensamarkan sebuah nilai “jujur” dengan dalih “percepatan”, kepentingan bersama, atau keterpaksaan/kesempitan, itu semua tergantung iman kita, meyakini bahwa jujur membawa kebaikan. Kebaikan yang dimaksud adalah kenyamanan hati, keberkahan dan kepercayaan. Allah Maha Tahu, mana orang-orang yang memegang teguh wahyu-Nya dan orang-orang yang membiarkan dirinya dalam keraguan. Allah tidak tidur, dia menghitung semua amal kita dengan rapi, kemudian memberikan balasan dengan cara-Nya, ada yang dipercepat ada yang diuji dalam jangka waktu lama, itu hak perogratif-Nya, karena Allah Maha Adil. Jadi yakinlah bahwa jujur itu baik, baik untuk diri kita, untuk keluarga kita dan baik untuk semua. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

Wahai orang- orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar- benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah meskipun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Jika kita mau merubah sesuatu, awali semua dari jujur, jujur dengan hati kita, maksudnya meninggalkan yang meragukan, jujur dengan ucapan kita, maksudnya, menepati ucapan dan janji dan jujur dengan perbuatan yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin. Semoga penulis dan pembaca Suara Hati tetap  teguh dengan komitmen dengan kejujuran, demi kedamaian dan kebaikan bersama. (Rofiq Abidin)
Positif thinking

Kamis, 08 Maret 2012

hidup kedua


Ini Ceritaku...


Hidup kedua

Baiklah...saya juga mau cerita...ini fakta. Sewaktu aku masih usia belasan tahun, seingat saya masih kelas satu SMP. Saya lagi senang-senangnya melihara burung dara, tahu kan? merpati, saampai mencapai hampir 30 an gitu lah.. Beberapa kali terakhir,merpatiku pada bertelor, namun setelah menetas, eh piyek (anak merpati) selale saja dimakan
oleh kucing, karena terbangnya belum terlatih. Nah pada suatu saat menetas lagi, aku rawat dan aku jaga baik2, aku latih ia terbang dan alhamdulillah ia bisa, betapa senangnya aku saat itu, dia nurut banget sama aku. Namun apa yang terjadi, saat pagi hari, tanggal 27 Ramadhan, saya melatih kembali merpati ini, eh tahu tahu dia terbang ke arah sumur, maka terjatuhlah ia...aku pun kaget...wah merpatinya terjatuh! teriakku...yang saat itu ada adik saya. Kamipun berencana mengambil merpati kecil ini, aku putuskan untuk masuk ke dalam sumur yang kedalamannya sekitar 17 meter, yang emang sumur ini aku ikut menggalinya. Tali timbapun saya pengang dan adik saya menjaga di atas sumur. erlahan-lahan akupun masuk sumur tanpa hambatan, namun sampai bawah lubang tangga sumur untuk membantu turun telah habis, namun dengan sabar akupun bisa turun hingga kakiku mampu engangkat merpeti kecil yang hampir mati ini, kuletakkanlah merpati ini di timba kecil, lalu diangkatlah keatas timba ini bersama merpai kecil oleh adik saya. Namun saya di bawah mau naik kebngungan tanpa alat apapun untuk naik, akhirnya akupun terjatuh "jegurrrrrr", nafasku mulai sesak, sambil memanggil adik saya agar segera menurunkan timbanya, namun adik saya panik dan meninggalkan saya, memanggil bapak. Akhirnya diatas kulihat sayu-sayu "tampak keramaian", Bapak saya mau ikut turun enyelamatkan aku, namun ibu pun melarang untuk turun. Karena kehabisan nafas dan sesak sekali rasanya aku asarah dan berucap "Ashadu an lailaha Illallah waashadu anna muhammadarosuullah, Ya Allah ampuni segala osaku, Ibu, bapak, adik-adikku dan semuanya maafkan segala salahku", ucapku lirih...namun tiba-tiba apala saya kejatuhan timba "cethok",saya pun kaget...dan mendengar teriakan "pegang kuat tali timba itu", maka ku pengang..dan aku diangkat dengan sangat cepat samapai tanganku terjepit poros yang igunakan untuk menaik turukan timba. Alhamdulilah saya selamat..namun anehnya saya merasa tidak minum air dan akupun melanjutkan puasa...semoga bermanfaat..

goo hidup


mimpi

GOAL HIDUP KITA
Oleh: Rofiq Abidin Katakanlah: sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). "(Al An'am: 162,163) Uforia bola kembali menarik perhatian insan sejagad, semua mata tersorot kesana. Pagelaran empat tahunan word cup yang digelar di Afrika Selatan memberi makna tersendiri bagi para "gibol" (gila bola), fans-fans berat benrdandan dengan gila-gilaan demi tim dan pemain kesayangannya. Para pemain berunjuk gigi memperlihatkan kemampuannya demi menunjukkan rasa cintanya kepada negaranya. Apa hikmah dari beragam aksi nyata yang diperankan mereka (supporter dan pemain) yang bisa kita petik? Coba sejenak kita hayati bahwa sesungguhnya dibalik segala perbuatan dan tindakan kita ada dorongan yang kuat untuk memuaskan bathin kita. Ada sebuah goal yang kita capai dalam hidup kita, dan akan kita persembahkan untuk siapa / apa goal itu. Jika kita berbuat / bekerja dengan cinta, kita tidak akan merasakan beban, walau seberat apapun pekerjaan / tugas kita. Kita menikmati pekerjaan kita, kita akan senantiasa merayakan setiap kemenangan-kemenangan kecil kita untuk menjaga tren kemenangan / kesuksesan selanjutnya, kita akan tetap optimis menuju kemenangan besar. Segala amaliyah kita, baik itu sholat kita, pengorbanan kita, hidup kita dan mati kitapun mengikuti kehendak Allah SWT, Rabb segenap alam semesta. Rasa cinta yang mendalam kepada Rabb (Agenda) Allah SWT akan terus membimbing kita dalam setiap langkah hidup kita, sehingga kita menemukan kepuasan dan kesejukan yang begitu menyamankan bathin kita, seolah olah kita telah meng-goal-kan bola tujuan kita ke gawang tujuan akhir kita. Menetapkan Goal Hidup Sesuatu yang kita cita-citakan tidak bisa datang begitu saja, perlu sebuah proses, sebagai bentuk tawakal kita kepada Allah. Nah sebelum kita memprosesnya, marilah kita menetapkan goal-goal hidup kita dengan sejelas-jelasnya, berapa estimasi waktunya, sebagai acuan proses yang akan kita kerjakan. Kenapa perlu kejelasan, karena kejelasan adalah sebuah kekuatan yang akan membimbing prosesnya demi tercapainya keinginan kita. Allah mengajak kita untuk mempersiapkan masa depan kita melalui firmanNya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18) Pesan Ilahi tersebut di atas, memberikan seruan untuk mukmin untuk senantiasa bertaqwa dan berbuat untuk meraih masa depannya. Untuk menetapkan goal hidup kita memang perlu kejelasan untuk meraihnya. Ada tiga hal yang diajarkan Allah untuk menumbuhkan sikap afirmatif. Pertama adalah Keimanan yang mendalam, sebagai landasan untuk membentuk optimisme yang kuat dengan apa yang dikehendakinya, karena dari optimesme inilah seseorang akan memulai dan memproses kehendaknya. Selanjutnya ketaqwaan adalah kunci meraih kinerja puncak (derajad tertinggi) disisi Allah dan dihadapan manusia, kedisiplinanlah praktek dari ketaqwaan ini, kita disiplin dengan aturan-aturan Ilahiyah yang telah kita sadari sebagai alat kontrol progres pencapaian prestasi kita. Berikutnya action / perbuatan merupakan wujud ikhtiar kita untuk mencapai goal-goal hidup kita, secara kreatif melakukan trobosan-trobosan sehingga mencapai goal indah yang akan menjadi tauladan bagi generasi selanjutnya, bukan sekedar yakin tapi tindakan yang dipersiapkan dan diterapkan dengan penuh kedisiplinan. Maka pijakan dari penetapan goal kita perlu memperhatikan tiga hal tersebut, dengan memperhitungkan keyakinan, kedisiplinan dan action yang telah kita lakukan niscahya Allah akan membimbing prestasi yang kita tetapkan. Merayakan Goal Hidup live celebration (perayaan kehidupan) itulah yang akan dapat menjaga tren kesuksesan kita, trend positif dan kelimpahan dalam kehidupan kita. Kita mengawalinya dengan mensyukuri segala kemampuan , keahlian dan karunia Allah apapun yang diberikan kepada kita, menikmati udara dan menatap hari dengan penuh senyuman. Adalah awal yang sangat baik jika setiap hari kita dapat memulainya dengan rasa syukur itu, kita menyambut anak kita dengan nuansa bahagia dan menyambut sekitarnya dengan penuh live celebration . Sehingga alam ini akan merespon getaran positif yang kita ekspresikan dengan goal-goal kemenangan dan kelimpahan. Coba sejenak kita hayati bagaimana pesan Allah berikut ini: Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan (QS. Al Hajj: 77) Goal-goal kemenangan yang kita dapatkan merupakan hasil alamiah kita karena ikhtiar kita telah dievaluasi oleh Allah sehingga kita cepat mendapatknnya. Apapun kemenangan kecil rasakanlah, jangan meremehkannya, rayakanlah dengan penuh rasa syukur. Bentuk syukur yang diajarkan dalam Al Qur'an surat Al Kautsar: 2, yakni sholat dan berqurban merupakan ekspresi nyata untuk dapat terus melanjutkan kemenangan-kemenangan selanjutnya. Dalam setiap sujud dan ruku 'kita kepada Allah saat melakukan sholat secara khusuk, jiwa kita akan kontak langsung dengan Allah Dzat yang maha halus, ekspresi syukur kita akan terasa dalam, kita akan merasakan relaksasi yang menyamankan jiwa dan fresh kembali setelah kita jemu dengan keruwetan dunia. Kita akan kembali segar menambah goal-goal kemenagan, itulah sholat sebuah terapy jiwa yang luar biasa jika kita benar-benar melakukannya dengan khusuk, bentuk live celebation yang diajarkan dalam islam, karena didalam goal-goal kemenangan yang kita raih ada faktor X, yakni tolong Allah sehingga fasilitas dan kelimpahan senantiasa kita dapatkan. Selanjutnya berkurban merupakan bentuk syukur yang dapat memuaskan jiwa, karena berkurban yang didasari kesadaran adalah pengejawentahan empati sosial yang penuh keikhlasan. Live celebration yang dilakukan dengan berkurban ini, akan menarik secara berlipat dari pada apa yang telah kita qurbankan, sehingga keberkahan terus berdatangan. Karena pada hakekatnya kelimpahan adalah bukan apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita dapatkan. Maksudnya hadirnya kelimpahan adalah datang bukan kita cari, sebagaimana kekhusukan dalam sholat sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kita ciptakan namun sesuatu yang datang, karena keasyikan jiwa kita yang telah kontak langsung dengan Allah, Rabb semesta alam. Dengan senantiasa menjaga jiwa untuk terus kontak dengan Sang Pencipta, kita akan terus terbimbing di jalanNya. Goal-goal kemenangan bukanlah sesuatu yang ujuk-ujuk, namun dihadiahkan oleh Allah kepada kita pada keyakinan, ketaqwaan dan amal kita. Yakinlah dengan kemampuan yang kita miliki, karena kemampuan kita adalah anugerah yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk mengelola beragam persoalan yang datang kepada kita, kemampuan kita ini merupakan ukuran yang mewadahi cita-cita kita, maka kemampuan kita bukan untuk didiamkan tapi ayo kita bangun demi kebahagiaan sejati yang kita harapkan. Baik kebahagiaan di dunia maupun nanti kembalinya jiwa kita kepada Allah dengan membawa pundi-pundi goal kebaikan yang mendampingi dan membahagiakan kita di akhirat. 

Berquban


Berqurban

MENCAPAI PUNCAK 
KESADARAN berqurban 
Oleh: Rofiq Abidin 
Secara simbolik qurban adalah merupakan penyembelihan hewan ternak (kambing, sapi / kerbau, unta) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Qurban ini merupakan ritual estafeta yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS sebagai perwujudan ketaatan total kepada sang khalik Allah SWT. Hasil Ibrahim AS untuk melaksanakan syariat Qurban dengan melakukan penyembelihan kepada Ismail anaknya yang kemudian diganti domba oleh Allah adalah keputusan berani yang dilandasi oleh keyakinan dan kepatuhan serta kecintaan kepadaNya. Karena pengamalan syariat qurban tersebut menyiratkan refleksi mendalam yang menghasilkan independensi tafkir dan aqidah hingga mencapai puncak kesadaran berqurban. Mempersembahkan persembahan kepada Tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejak lama. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradapan manusia yang beragam mengenal persembahan kepada Tuhan, baik berupa penyembelihan hewan maupun manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu tradisi tersebut. Persembahan suci dengan menyembelih manusia juga dikenal peradaban Arab sebelum Muhammad lahir. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muththalib Bin Hasyim, kakek Rasululluah, pernah bernadzar jika ia dikaruniai karunia 10 anak laki-laki maka akan menyembelih salah satu putranya disisi ka'bah sebagai qurban.ketika putranya telah genap sepuluh dan menginjak baligh, maka jatuhlah dinilai kepada Abdullah, ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraish berusaha melarangnya agar tidak diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Mutalib sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta. Kisah Ibrahim AS dan Abdul Muththalib terdapat sebuah hikmah tentang "kesadaran berqurban" sehingga dapat mencapai hasil berani yang dilandasi keyakinan, kepatuhan dan kecintaan kepada Allah SWT. Munculnya expresi tauhid tersebut adalah dipicu dari rasa syukur mendalam kepada Allah SWT. Kesadaran mendasar Untuk Berqurban Bangkitnya kesadaran berqurban akan dimulakan dari rasa syukur yang tinggi atas segala karunia Allah yang diberikan selama hidupnya. Karena sesungguhnya nikmat Allah SWT tak akan dapat dihitung, mari kita cermati pesan Ilahi dalam surat Al Kautsar 1-3:1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. 2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah 3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus Setidaknya ada tiga nikmat utama yang harus kita syukuri, pertama adalah nikmat hidup, kita tidak pernah bercita - cita untuk hidup karena sesungguhnya menghendaki hidup adalah Allah sang maha pencipta. Kedua nikmat kemerdekaan berpikir, sebagai sesuatu kelebihan dari makhuk apapun yang diciptakan Allah, sehingga dengan akal kita dapat secara merdeka menentukan pilihan jalan hidup yang sekaligus dapat mengetahui resiko logis dari pilihan jalan tersebut. Ketiga, nikmat hidayah iman, menjadi sesuatu yang berharga untuk mengendalikan pikiran dan sikap sehingga dapat menentukan keselamatan hidup baik dunia maupun akhirat. Tiga nikmat utama ini telah menjadi alasan utama bagi manusia untuk mensyukuri nikmat Allah disamping nikmat - nikmat Allah yang lain yang tak bisa dihitung. Perasaan syukur yang telah bersemayam dalam dada, semestinya diekspresikan dalam wujud syukur riil yakni sholat dan berqurban, itulah bentuk syukur nyata yang telah dijelaskan sebagai bentuk perintah. Bersyukurlah kita dengan segala kesempurnaan hidup yang telah kita miliki dengan wujud syukur yang riil diantaranya dengan berqurban untuk kemaslakhatan umat manusia. Refleksi Kesadaran Bersyukur Kepekaan muslim terhadap lingkungan sekitar akan melantari kesadaran untuk selalu mensyukuri apa - apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Pelatihan dan pembelajaran sebenarnya telah disediakan dilingkungan kita, baik ketimpangan - ketimpangan adannya gelandangan, pengangguran, saudara sakit yang berkepanjangan dan apapun keadaan kemanusiaan yang lebih sengsara dari kita. Semua yang terjadi telah ditentukan rumusnya oleh Allah yang maha berkehendak. Maka kondisi kita hari ini adalah kehendak Allah yang harus disyukuri walau mungkin ada yang terasa berat kita rasakan, namun janganlah merasa paling sengsara karena akan dapat menciptakan dinding untuk mensyukuri nimat Allah. mari kita renungkan pesan Ilahi berikut ini: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al - An'am: 44). Terkadang seseorang diberi peringatan oleh Allah tidak nyambung, maksudnya tidak ada kepekaan bahwa peringatan yang terjadi itu seolah - olah tidak ada korelasinya dengan perbuatan dosanya. Maka orang yang seperti ini justru akan dibukakan pintu - pintu kesenangan, sehingga ketika ia telah merasa sukses, dan girang dengan kesuksesannya lantaran meninggalkan perintah Allah, maka Allah memberikan siksa dengan sekonyong - konyong (hasil akumulasi dosa yang telah diperbuatnya). Maka ketika itu mereka akan terdiam dan putus asa (terpasung, tidak bisa berbuat apa - apa). Pesan Ilahi ini memberikan hikmah agar kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita, sebelum datangnya peringatan Allah yang berwujud tegoran bahkan siksa maka segeralah kita sadar untuk mensyukuri nikmatNya dengan wujud syukur riil, bukan hanya secara verbal semata. Mencapai Puncak Kesadaran Berqurban Tingkat kesadaran seseorang untuk berqurban tergantung kepekaan dan empati terhadap lingkungan sekitar. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya qurban. Adapun untuk mencapai puncak kesadaran berqurban sebagaimana yang pernah dipraktekkan Ibrahim AS dan Abdul Muththalib bin Hasyim atau Aktion syukur yang lain yang pernah diamalkan untuk kemaslakhatan manusia dibutuhkan refleksi secara bertahap. Mari kita refleksi jiwa taqwa kita dengan beberapa hal di bawah ini:1. Melatih Empati dan Kepedulian Terhadap Sesama dan Lingkungan Pada setiap ketimpangan sosial yang terjadi memberikan ujian kepekaan nurani bagi kita, sejauh mana jangkauan perasaan kita untuk mengulurkan tangan, melakukan sesuatu kebaikan atau hanya bisa ngersulo tanpa tindaan apa - apa. Maka ujilah empati dan kepedulian kita terhadap ketimpangan - ketimpangan sosial yang terjadi didepan kita dengan amal nyata untuk menggugah kesadaran berqorban. 2. Menggugah Jiwa Itsar Mendahulukan kepentingan orang lain (Jalan Allah) walaupun dirinya sedang membutuhkan adalah merupakan aksentuasi soaial dan pengertian dari itsar. Sikap itsar ini pernah dipraktekkan oleh kaum anshar kepada kaum muhajirin ketika baru saja melakukan hijrah dari Makkah ke Jasrib, mereka memberikan rumahnya dan membagi harta bendanya serta menawarkan diri untuk menjadi saudara. Fenomena sosial yang terjadi memberikan kita kesempatan untuk melatih jiwa itsar kita sedekat apa perasaan kita terhadap kejadian - kejadian alam dan sekitarnya. Peduli untuk berbagi adalah merupakan praktek qurban secara kontektual. 3.Membunuh Jiwa kehewanan Berqorban secara kontekstual dengan membunuh sifat - sifat kehewanan diantaranya: Hubud dunya (terlalu cinta terhadap kebendaan) egois, berbuat semaunya (melanggar hukum dan norma - norma), takabur, free sex, membunuh sesama (kejahatan kemanusiaan), serakah dan lain - lain yang menimbulkan kerusakan. Dengan membunuh sifat - sifat kehewanan maka kita akan mudah tersentuh untuk mensyukuri nikmatNya dalam wujud riil yakni pengabdian / Ibadah sholat sebagai komunikasi langsung dengan Allah dan Berqurban untuk mendekatkan siri kepadaNya dan kesejahteraan umat. 4.Pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT Setiap perintah Allah mesti kita yakini sebagai hal positif, tidak ada satupun perintah Allah yang termaktub dalam Al qur'an adalah negatif dan tidak ada keraguan didalamnya. Mari kita renungkan syari'at Qurban berikut ini: dan untuk tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al Hajj: 34) Ayat diatas secara tegas telah mensyari'atkan kurban untuk tiap - tiap individu umat sebagai wujud ketaatan total / kepatuhan kepada Allah yang telah menciptakannya . Seseorang yang telah mencapai kesadaran total untuk mentaati segala keputusan Allah mealui wahyunya. Allah itu maha baik maka segala perintahnya bernilai dan pasti berdampak baik, sebagai hamba dan ciptaanNya sudah semestinya menta'ati segala RubbubiyahNya (aturan) yang telah ditetapkan untuk kemaslakhatan dan keselamatan baik di dunia dan di akhirat. Seorang mukmin akan mengimani / meyakini secara penuh bahwa perintah Allah selalu benar, termasuk qurban juga sebagai bentuk pembenaran dan pembuktian keyakinan tentang Allah dan syariatNya. Berbagai keindahan dunia akan senantiasa menguji mukmin, baik harta, anak atau kemewahan yang menjanjikan kepuasan adalah merupakan sesuatu yang bisa diraih dan memang kebahagiaan adalah obsesi setiap manusia. Namun segala keduniaan tak boleh membutakan kita untuk mengabdi kepadaNya, karena dibalik itu akan menguji kecintaan terhadap Allah SWT. Maksimalitas upaya untuk membuktikan keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT akan mengakselerasi pemahaman dan sikap mukmin untuk mencapai puncak kesadaran berqurban. Karena didalamnya akan menyiratkan semangat yang menggelora untuk merenungi nikmat Allah yang tiada tara yang dibarengi rasa syukur kepada Allah SWT. Segala sifat dan karakter hewaniah baik yang berbentuk merusak atau pelanggaran terhadap norma - norma yang berlaku akan bisa kita lenyapkan dengan kesadaran untuk mengejawentahkan qurban dalam kehidupan baik secara simbolik maupun secara kontekstual. Sebagai pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT yang maha baik dan benar. 

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © RAHMATAN LIL ALAMIN 2015
    Distributed By My Blogger Themes | Designed By Templateism